Pengelolaan Energi Panas Bumi Di Indonesia Minim

oleh

Pengelolaan energi panas bumi di Indonesia masih sangat minim padahal potensinya cukup besar. <p style="text-align: justify;">Direktur Teknik Tambang Ditjen Minerba Kementerian ESDM Syahrudin Lubis di Banjarmasin, Rabu (23/03/2011) mengatakan, potensi panas bumi di Indonesia mencapai 27.000 megawatt namun produksinya baru mencapai 2.189 megawatt.<br /><br />Dengan demikian, kata dia, potensi energi panas bumi di Indonesia masih cukup tinggi tinggal memaksimalkan pengelolaannya.<br /><br />Saat ini, kata dia, pemerintah sedang membuat payung hukum untuk bisa memaksimalkan pengelolaan energi panas bumi tersebut.<br /><br />"Sebagian besar energi panas bumi di Indonesia berada di kawasan hutan lindung, sehingga perlu ada peraturan yang bisa melindungi setiap investasi yang ditanamkan untuk mendukung pemanfaatan energi tersebut," katanya.<br /><br />Kendati lahan yang bakal dimanfaatkan untuk pengeboran energi panas bumi tersebut cukup sedikit dan tidak akan mengganggu kawasan hutan lindung, namun investor tetap memerlukan peraturan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.<br /><br />Selain mengembangkan energi panas bumi, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup, kini juga gencar mengembangkan biogas untuk sumber energi baru.<br /><br />Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta mencontohkan salah satu sumber energi baru yang dikembangkan adalah pengembangan instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) yang dilengkapi biodigester sehingga pengolahan limbah seperti tinja manusia yang dibangun di Lembaga Pemasyarakatan Teluk Dalam Banjarmasin bisa menghasilkan gas methana.<br /><br />IPAL di LP tersebut, kata dia, berkapasitas menampung air limbah sekitar 500 orang per hari dengan penurunan beban pencemaran (BOD) sebesar 80 persen atau 1600 gram per hari.<br /><br />Selain itu, kata menteri, manfaat ekonominya adalah terbentuknya gas methana sebesar 4,5 m3/hari atau setara dengan 3,5 kg LPG atau 2,5 liter minyak tanah per hari. Dengan demikian, kata dia, mampu mengurangi biaya memasak Rp17.500 perhari. <br /><br />Selain itu IPAL di terminal kilometer 6 yang dilengkapi sarana mandi cuci kakaus berkapasitas pengolahan air limbah sebesar 250 liter per hari.<br /><br />Penurunan pencemaran BOD sebesar 800 gram/hari, manfaat secara ekonomi setara minyak tanah sekitar 1,65 liter atau LPG sebesar 2,37 kg/hari.<br /><br />"Selain itu banyak percontohan pengembangan energi bio gas yang kita kembangkan, dan diharapkan selain mengurangi efek gas rumah kaca juga bisa membantu meningkatkan pendapatan masyarakat," katanya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>