Pengusaha Kalteng Tidak Mengeluh Harga BBM Naik

oleh

Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Kalimantan Tengah Tugiyo Wiratmodjo mengatakan hingga saat ini pengusaha di wilayah setempat tidak ada yang mengeluhkan dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak bersubdi. <p style="text-align: justify;">"Selama ini perusahaan perkebunan maupun tambang lebih menggunakan BBM industri sehingga kenaikan tersebut tidak menjadi permasalahan," kata Tugiyo di Palangka Raya, Selasa.<br /><br />Dia mengatakan proses distribusi pengangkutan barang dan bahan pokok yang masuk ke Kalteng didominasi pengusaha asal Kalimantan Selatan maupun Pulau Jawa.<br /><br />Menurut dia Kadin tidak pernah menolak justru menyarankan agar BBM bersubsidi dihapuskan. Sebab subsidi tersebut hingga saat ini belum tepat sasaran.<br /><br />Apabila subsidi BBM tersebut dihapus maka akan menghemat anggaran sebesar Rp300 triliun yang dapat dimanfaatkan pemerintah di semua provinsi untuk mempercepat pembangunan.<br /><br />Dia mengatakan dampak dari penghapusan subsidi BBM sangat besar. Asal pembagiannya merata dan tidak berdasarkan jumlah penduduk.<br /><br />Pengusaha Kalteng itu juga mengkritisi tingginya perbedaan harga BBM jenis premium dibandingkan solar akan menimbulkan berbagai permasalahan. Mulai dari pengoplosan dari solar ke premium hingga penjualan BBM bersubsidi ke Negara lain melalui laut.<br /><br />"Kami Kadin se Indonesia sangat sepakat bahkan selalu meminta pemerintah pusat mencabut subsidi BBM sepenuhnya atau 100 persen. Bayangkan manfaat yang didapat apabila subsidi dialihkan ke sektor lain," kata Tugiyo.<br /><br />Ketua Kadin Kalteng itu mengharapkan agar pemerintah pusat berani mengambil resiko terhadap penghapusan BBM bersubsidi. Hanya, pengalihan dananya harus tepat sasaran dan benar-benar dirasakan masyarakat.<br /><br />"Alihkan dananya ke pendidikan, kesehatan, peningkatan perbaikan infrastruktur, bantu petani maupun nelayan, subsidi transportasi pengangkutan bahan pokok, dan lainnya. Kadin akan selalu mendukung asal demi kemajuan Indonesia," demikian Tugiyo. <strong>(das/ant)</strong></p>