Pengusulan Pahlawan Nasional Mantan Gubernur Kalimantan Diseminarkan

oleh

Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Kalimantan Selatan menyeminarkan mantan Gubernur Kalimantan Pangeran Mohammad Noor (alm) untuk pengusulan sebagai Pahlawan Nasional. <p style="text-align: justify;">Seminar tersebut akan menghadirkan sejumlah sejarawan sebagai narasumber, ujar Sekretaris Dewan Harian Daerah (DHD) 45 Kalimantan Selatan (Kalsel) H Abdul Haris Makkie di Banjarmasin, Rabu.<br /><br />"Kita berharap pemerintah pusat merespons positif usulan Pangeran Moh Noor untuk meraiah gelar Pahlawan Nasional," lanjut mantan Kepala Biro Humas Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Kalsel itu.<br /><br />Oleh sebab itu, dalam seminar yang berlangsung 7 November mendatang, sengaja mengundang para pakar, termasuk sejarawan dari luar dan dalam daerah, guna menunjang data pengusulan almarhum sebagai Pahlawan Nasional.<br /><br />Sejumlah sejarawan itu, antara lain Prof Helius Sjamsudin MA PhD, Guru Besar sejarah pada Universitas Indonesia, dan Dr Herry Forda NP MPd, dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin.<br /><br />Selain itu, hakim agung Dr H Abdurrahman SH MH yang juga seorang pengamat sosial kemasyarakatan dan sejarah Kerajaan Banjar Kalsel, serta Prof Emeritus MP Lambut, seorang budayawan kelahiran Kalimantan Tengah.<br /><br />Sejarah singkat almarhum P Moh Noor, lahir di Martapura Kalsel 24 Juni 1901, dengan riwayat pekerjaan antara lain, Wakil Menteri Perhubungan dan Pekerjaan Umum RI (1945-1946), Menteri Pekerjaan Umum dn Tenaga Kerja RI (1956-1959).<br /><br />Kemudian dari segi pemikiran dan kegiatan pembangunan, antara lain pemrakarsa Proyek Sungai Barito (Barito River Basin Development Project), pemrakarsa proyek pasang surut untuk meningkatkan usaha transmigrasi (Trans Sumatera Waterway and Kalimantan Coastal Canal).<br /><br />Pendidikan formal almarhum Moh Noor, terakhir Technische Hooge School di Bandung, Jabar jurusan insinyur sipil (1927), menerima penghargaan/tanda jasa dari Yayasan Dr Yose Rizal Manila (1971) dan Bintang Mahaputra Utama III dari Presiden RI (1973). (das/ant)</p>