Pensiun Massal, Ancaman Kekurangan Guru Semakin Besar

oleh

Ancaman kekurangan guru di Melawi akan semakin dirasakan mengingat banyaknya guru yang akan pensiun bersamaan pada tahun 2015 hingga 2016. <p style="text-align: justify;">Jumlahnya bisa mencapai 100 guru, dan tentunya akan berdampak pada proses belajar mengajar di sekolah yang ditinggalkan.<br /><br />Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Melawi, Paulus mengungkapkan ancaman kekurangan guru akan semakin dirasakan mengingat jumlah guru yang pensiun tak sebanding dengan total penerimaan pns untuk formasi guru yang ada.<br /><br />“Yang masuk baru tidak sebanding dengan guru yang pensiun. Ini akan jadi kendala kedepannya,” kata Dia saat dijumpai di ruang kerjanya, kemarin (1/10).<br /><br />Paulus mengungkapkan, guru yang akan pensiun setidaknya mendekati angka 100 orang. Yang pensiun sebagian besar adalah guru-guru inpres yang didatangkan oleh pemerintah pusat dari pulau jawa atau NTT di era tahun 70 dan 80 an. <br /><br />“Sementara penerimaan guru dua tahun terakhir tidak seberapa. Tahun lalu ada 75 formasi, tapi hanya terisi 40 saja karena banyak tak mampu menembus passing grade. <br /><br />Sementara tahun ini lebih sedikit, karena hanya disediakan 29 formasi guru untuk seluruh tingkatan. Bahkan guru SD formasinya hanya tiga orang saja,” katanya.<br /><br />Sementara, untuk mengharapkan tenaga guru yang lulus dari seleksi K2 juga sangat sulit mengingat sebagian besar tenaga honor yang diangkat dari jalur K2 merupakan lulusan SMA. Sehingga dari sisi kompetensi sudah dianggap tidak memenuhi kebutuhan. <br /><br />“Kita sekarang setidaknya perlu 3.400 sampai 3.600 tenaga guru. Jumlah guru yang ada sekarang baru dibawah dua ribuan. Makanya untuk membantu proses belajar mengajar, sekolah masih dibantu guru kontrak dan honor,” kata Paulus.<br /><br />Mantan Kabag Humas Melawi ini mengungkapkan, kekurangan guru terbesar ada pada tingkat SMP. Saat ini baru terdapat 350 guru SMP yang sudah berstatus PNS. Padahal ada 114 SMP di Melawi.<br /><br />Dengan hitungan ideal, SMP kecil seperti SATAP membutuhkan setidaknya enam guru, maka kebutuhannya saja sudah mencapai 684 guru. Belum lagi untuk SMP yang jumlah rombongan belajarnya lebih besar seperti SMP 1 Nanga Pinoh yang memiliki 800 murid.<br /><br />“SMA juga kurang, tapi kebanyakan yang kurang guru adalah SMA atau SMK yang baru dibangun. Kalau yang lain tidak seberapa,” jelasnya.<br /><br />Paulus menuturkan, dari sisi regulasi, memang Disdik Melawi mengalami kesulitan untuk menambal kekurangan guru mengingat Pemkab Melawi sudah tak lagi memperbolehkan menambah tenaga kontrak daerah.<br /><br />“Sehingga mau tidak mau, untuk menutupi guru yang pensiun, kita meminta sekolah untuk memaksimalkan penggunaan dana BOS untuk mengangkat guru honor. Apalagi sekarang standar BOS setiap sekolah juga sudah ditingkatkan,” katanya.<br /><br />Paulus menerangkan, dana BOS dialokasikan ke seluruh sekolah tidak sekedar menghitung jumlah siswa. Untuk tingkat SD anggaran BOS yang dikucurkan paling minimal dihitung dengan standar 80 siswa. Kalau jumlah siswanya diatas 80 baru dihitung berdasarkan jumlah siswa.<br /><br />“Sedangkan SMP standar minimalnya adalah 120 siswa. Jadi kalau SMP ini siswanya dibawah 120 orang, maka dia menerima dana BOS dengan perhitungan 120 siswa. Kalau lebih baru dihitung dengan jumlah yang ada,” jelasnya.<br /><br />Dana BOS yang lebih besar, kata Paulus membuat sekolah lebih leluasa dalam mengatur keuangan. Setidaknya untuk menambah guru honor. <br /><br />BOS sendiri dalam aturannya memang tidak diperuntukkan untuk pembangunan fisik skala besar, karena hanya diperbolehkan untuk sekedar memperbaiki ruangan atau meja kursi yang rusak saja. <strong>(ek/kn)</strong></p>