Penurunan AKI dan AKB di Sintang Masih Lambat

oleh

SINTANG, KN Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang, Yosepha Hasnah, membuka kegiatan Bergerak Bersama Untuk Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Stunting di Kabupaten Sintang, Selasa 23 November 2021 di Aula Balai Praja, Kantor Bupati Sintang.

Yosepha menyampaikan walaupun di tengah kondisi bencana banjir yang saat ini melanda Kabupaten Sintang, kita semua harus tetap semangat untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita seperti biasa.

“dalam 30 tahun terakhir, upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah memang sudah mampu menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Namun, harus diakui pula bahwa jika dilihat tren penurunannya, masih sangat lambat, dengan penurunan angka kematian ibu yang hanya 1,8% per tahun” jelas Yosepha.

Hal yang sama juga terjadi pada penurunan angka kematian bayi yang masih lambat.

Indonesia diperkirakan akan menghadapi tantangan berat mencapai target sustainable development goals (SDGS).

Adapun target SDGS hingga tahun 2030 yang harus diwujudkan dalam proses pembangunan kesehatan, yang dituangkan dalam RPJMN antara lain pada tahun 2030, mengurangi rasio angka kematian ibu hingga kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup.

“Tahun 2030, mengakhiri kematian bayi baru lahir dan balita yang dapat dicegah, dengan seluruh negara berusaha menurunkan angka kematian neonatal setidaknya hingga 12 per 1.000 kelahiran hidup dan angka kematian balita 25 per 1.000” tambah Yosepha.

“saya menyambut positif dan memberikan apresiasi penyelenggaraan rapat koordinasi tim Pokja dan AMP bergerak bersama dalam upaya percepatan penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Sintang pada hari ini. Upaya penurunan AKI dan AKB menjadi semakin berat akibat pandemi covid-19 yang berkepanjangan yang melanda Indonesia” ucap Yosepha.

Yosepha mengatakan setidaknya ada tiga penyebab potensi peningkatan AKI dan AKB akibat pandemi covid19. Pertama, terjadinya penurunanlayanan imunisasi dasar bagi balita dan pemeriksaan kecukupan gizi dan balita.

Hal ini disebabkan oleh menurunnya penyelenggaraan posyandu di mana hampir 50% puskesmas tidak mengadakan posyandu selama masa pandemi.

“cukup banyak puskesmas yang menutup pelayanan/operasional karena tenaga kesehatannya (nakes) terpapar covid-19” terang Yosepha.

Kedua, terjadinya penurunan pelayanan pemeriksaan kehamilan rutin bagi ibu hamil akibat pandemi. Penurunan terjadi karena layanan puskesmas ataupun RSUD yang tutup sementara akibat adanya nakes yang terpapar covid-19, maupun kekhawatiran ibu hamil untuk datang memeriksakan kehamilan ke faskes untuk tertular virus ini. Data Kemenkes misalnya menyebutkan 84% pelayanan kesehatan terdampak dalam 6 bulan awal pandemi. di sisi lain 83,6% Puskesmas mengalami penurunan kunjungan pasien.

Ketiga, potensi peningkatanak ini disebabkan adanya potensi peningkatan stunting akibat pandemi covid-19 ini yang diperkirakan meningkat hingga 7 juta anak.

Permasalahan kita di Kabupaten Sintang juga menghadapi tantangan tersendiri dengan terjadinya bencana banjir yang telah mengakibatkan banyak fasilitas pelayanan kesehatan kita yang juga terdampak.

“saya mengajak kita semua untuk bergerak bersama dalam upaya percepatan penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Sintang. saya yakin dan percaya bahwa kegiatan audit maternal perinatal’

“(AMP) telah banyak mendorong perubahan kebijakan-kebijakan lokal serta perbaikan kualitas pelayanan kesehatan maternal dan perinatal. Bahkan dalam situasi keterbatasan yang saat ini kita hadapi. percayalah bahwa tugas mulia tersebut merupakan amal ibadah dalam membangun bangsa, negara dan daerah kita” tutup Yosepha. (S2/D2)