Penyakit Kulit Mewabah di Sungai Kayan

oleh
oleh

Sudah sejak lama, air Sungai Kayan tidak lagi dijadikan sumber air minum bagi warga sepanjang jalur sungai Kayan. <p style="text-align: justify;">Kegiatan yang masih dilakukan di sungai yang membelah Kecamatan Kayan Hulu dan Kayan Hilir ini, hanya tinggal kegiatan mandi dan mencuci pakaian. <br /><br />Namun akhir-akhir ini, akibat pencemaran, bahaya penyakit kulit mengintai di sungai ini. Informasi ini, diperoleh dari Kepala Sekolah SDN 1 Nanga Mau, S. Matius Akon, pada Rabu (05/02/2014).<br /><br />Menurut pria kelahiran tahun 1969 yang juga Sekretaris Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Kayan Hilir ini, pencemaran air di Sungai Kayan ini sebetulnya sudah berlangsung lama. Namun hanya pada saat musim kemarau seperti ini baru benar-benar dirasakan dampaknya. Disejumlah kampung telah terjangkit penyakit kulit.<br /><br />“Yang sudah diketahui, selain di Desa Nanga Mau, wabah penyakit kulit sudah terjadi juga di Desa Engkerangan, Desa Mentunai, Desa Natai Tebedak, sampai ke muara Kayan. Pencemaran bukan hanya karena dampak dari hadirnya perkebunan kelapa sawit, kegiatan penambangan emas tanpa izin (PETI) pun turut punya andil juga,” papar Akon.<br /><br />Terkait kondisi tersebut, Camat Kayan Hilir M. Napiah yang dihubungi untuk dikonfirmasi juga membenarkan kondisi tersebut. Menurut Napiah, karena Sungai Kayan ini membelah Kecamatan Kayan Hulu dan Kecamatan Kayan Hilir, untuk pencemaran yang diakibatkan oleh kegiatan PETI, dirinya baru-baru ini telah berkoordinasi dengan Camat Kayan Hulu, jelasnya.<br /><br />“Pencemaran sudah sangat terasa, sehingga meskipun musim kemarau baru berlangsung selama 3 pekan. Dan kami masih akan terus melakukan koordinasi dengan Camat Kayan Hulu. Utamanya dalam hal yang terkait dengan kegiatan PETI,” jelasnya.<br /><br />Secara terpisah, Camat Kayan Hulu, Tober Manurung ketika dionfirmasi juga membenarkan pernah dihubungi oleh Camat Kayan Hilir terkait persoalan tersebut. Hanya saja, kata dia, silahkan Desa-Desa yang katanya terkena aliran air kotor tersebut segera membuat keluhan tertulis, sebagai dasar kami untuk menindaklanjuti. “Jadi jangan hanya katanya dan katanya saja,” ucapnya. <em><strong>(Luc/das)</strong></em></p&gt;