Penyandang Disabilitas Sintang Dapat Bantuan KUBE

oleh

Sebanyak 10 kelompok usaha bersama (KUBE) yang anggotanya para penyandang disabilitas Sintang mendapatkan bantuan peralatan usaha dan modal dari Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sintang. <p style="text-align: justify;">Penyerahan bantuan itu dilakukan secara simbolik oleh kepala dinas Sosnakertrans Sintang Florensius Kaha pada Jumat (17/10) pagi tadi.<br /><br />“Bantuan ini kami berikan agar para penyandang disabilitas ini bisa lebih mandiri,”ungkap Florensius Kaha.<br /><br />Sejumlah peralatan usaha yang diberikan kepada 10 KUBE penyandang disabilitas antara lain berupa seperangkat alat menjahit termasuk mesin obras, peralatan pembuatan kue. <br /><br />“Modal ada juga, tapi jumlahnya saya kurang hapal benar. Yang jelas bantuan ini bertujuan agar para<br />penyandang disabilitas ini bisa berusaha dan mandiri,”tegas Kaha.<br /><br />Menurut Kaha banyak penyandang cacat yang minder dengan kekurangan yang sebenarnya menjadi kelebihan mereka. Ia pun berpesan kepada sekitar 50an penyandang disabilitas yang memenuhi aula pertemuan<br />kantor Sosnakertrans untuk menghilangkan perasaan tersebut. <br /><br />Bahkan ia menuturkan pengalamanya sebagai anak pedalaman Serawai ketika masuk salah satu SMA favorit di kota Sintang beberapa tahun lalu. <br /><br />“Kalau kita minder, maka kita akan rugi sendiri. Maka rasa minder harus dibuang dan diganti dengan rasa percaya diri kalau kita ingin maju,”ujarnya.<br /><br />Para penyandang disabilitas yang tergabung dalam KUBE, sebelum mendapatkan bantuan diperiksa kesehatanya terlebih dahulu. Untuk kegiatan ini, dinas Sosnakertrans mengandeng sejumlah tenaga kesehatan dari dinas kesehatan Sintang.<br /><br />“Mereka juga akan segera kita daftarkan sebagai peserta BPJS penerima bantuan iuran. Sehingga ketika mereka sakit nanti, mereka tidak pusing-pusing lagi memikirkan biayanya. Karena dengan memegang kartu<br />BPJS, mereka bisa berobat di mana saja di fasilitas layanan kesehatan milik pemerintah,”jelasnya.<br /><br />Selain itu, dinas juga berencana mengirimkan 5 orang penyandang disabilitas ke Panti Bina Laras Banjar Baru Kalimantan Selatan untuk mendapatkan pendidikan ketrampilan. <br /><br />Penyandang disabilitas yang dikirim akan diseleksi, karena ada syarat dan ketentuan yang harus di<br />penuhi. Kaha juga berjanji akan mengupayakan lapangan pekerjaan bagi penyandang disabilitas yang memang telah memiliki ketrampilan.<br /><br />“Sesuai ketentuan Undang-undang, bahwa sebuah perusahaan harus menyediakan 1 per sen dari sleuruh karyawan yang dibutuhkan untuk penyandang disabilitas. <br /><br />Mereka yang punya ketrampilan dan pendidikan yang mendukung kita akan salurkan ke perusahaan yang memang membutuhkan. Kita akan berikan surat rekomendasi. Seperti yang sudah kami lakukan ke sejumlah perusahaan yang ada di Sintang ini,”bebernya kembali.<br /><br />Ketua perhimpunan penyandang disabilitas Indonesia wilayah Sintang, Redena mengatakan bahwa pihaknya sangat bahagia dan bersyukur atas perhatian pemerintah. Ia juga berharap, akan lebih banyak lagi<br />penyandang disabilitas seperti dirinya yang bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah.<br /><br />“Saat ini ada sekitar 58 angggota dan pengurus PPDI. Kami yakin jumlah masih ada penyandang disabilitas di daerah lain di Sintang ini yang belum terdata. Maka kami mohon kepada anggota yang sudha tergabung<br />dalam PPDI untuk bisa mengkomunikasikan kepada teman atau kerabat yang ada di daerah mereka,”ujarnya.<br /><br />Katijono (34) pemuda asal desa Ransi Dakan kecamatan Sungai Tebelian mengatakan bahwa ia baru bergabung menjadi anggota PPDI beberapa bulan terakhir. Meski belum tahu banyak apa kegiatan PPDI, pria yang cacat kakinya lantaran kecelakaan ini lalu lintas ini mengatakan sangat senang.<br /><br />“Saya senang bisa bergabung dan bertemu dengan teman-teman yang senasib seperti saya. Saya berharap bisa mendapatkan ketrampilan dan wawasan baru dengan bergabung di organisasi ini,”ujarnya.<br /><br />Akibat terjatuh dari motor yang membuatnya cacat, Katijono merasa minder. Bahkan diusianya yang sudah kepala 3, ia belum juga menemukan pendamping hidup. Keseharian tidak banyak aktifitas yang bisa dilakukan dan lebih banyak tinggal diam di rumah. <br /><br />“Mau ikut noreh sudah tidak bisa lagi, soalnya kaki saya sudah tidak mampu berjalan jauh. Jadi selama ini hanya nganggur di rumah,”tuturnya.<br /><br />Lain halnya dengan Mustofa Arifin, penyandang disabilitas asal Binjai Hulu ini mengatakan bahwa kekurangan fisiknya harus menjadi nilai lebih bagi dirinya. Ia mengaku tak mau pasrah lantaran termasuk dalam golongan penyandang disabilitas. <br /><br />Sejak berkesempatan mengikuti pelatihan ketrampilan di Solo, lajang 25 tahn yang biasa disapa Arifin<br />semakin giat memotivasi teman-teman di sekitarnya. Tidak hanya penyandang disabilitas seperti dirinya, tapi juga kepada teman-temanya yang tak memiliki gangguan fisik.<br /><br />“Saya bilang dengan mereka yang kondisinya seperti saya bahwa kita ini manusia sama seperti yang lain. Jadi sama-sama punya kesempatan untuk menjadi baik dan maju. Sekarang saya sedang membuat miniatur masjid dari kotak bungkus rokok, sayangnya memang kami kekurangan modal jadi belum selesai. Saya ingin mengajak teman-teman saya untuk bisa bekerja dan menghasilkan uang,”tuturnya.<br /><br />Arifin mengaku sedih saat melihat teman-temannya ada yang mencuri karena tidak punya uang untuk membeli suatu barang. Namun ada juga teman-temanya yang justru gemar bermain judi dan minum miras. <br /><br />“Menurut saya itu kegiatan yang sangat tidak bermanfaat. Saya ingin mengajak mereka bekerja dan berkarya seperti pelatihan yang pernah saya dapatkan di Solo. Tapi saya tidak punya modal. Semoga pemerintah bisa membantu kami, sehingga kami bisa berkarya dan bermanfaat bagi orang lain,”harapnya. <strong>( eka/kn)</strong></p>