Peraih Emas SEA Games Menunggu Janji Pemerintah

oleh

Memiliki rumah sendiri dari hasil keringat sendiri ketika masih muda adalah harapan Erna Susana Madjadji (42), peraih medali emas anggar tiga kali Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEA Games).Rumah impian mantan spesialis nomor floret asal Aceh itu pernah dijanjikan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. <p style="text-align: justify;">"Sudah tiga kali saya mengajukan permohonan bantuan rumah dari pemerintah, tapi hingga kini belum juga ada wujudnya. Tahun ini, ada yang menghubungi agar saya mempersiapkan berbagai dokumen sebagai syarat mendapatkan rumah," kata dia.<br /><br />Ibu satu anak yang masih tinggal di rumah orang tuanya di Aceh Besar itu merasa tak lagi percaya diri memohon bantuan pemerintah.<br /><br />"Siapa yang tidak ingin memiliki rumah sendiri, apalagi bantuan dari pemerintah adalah salah satu bentuk kepedulian negara terhadap pahlawan olahraga," kata Erna yang menggeluti anggar sejak usia 10 tahun.<br /><br />Saat pertama kali mengajukan permohonan bantuan pemerintah, Erna mengaku telah memenuhi kriteria yang ditentukan pemerintah.<br /><br />"Saya masih ingat, beberapa kriteria yang harus dipenuhi calon penerima bantuan rumah itu, antara lain tidak memiliki rumah sendiri dan menoreh prestasi di tingkat internasional seperti di SEA Games dan Asian Games," kenangnya.<br /><br />Akan tetapi, sampai ketiga kalinya mengajukan permohonan, semuanya kandas. Nama Erna Susana tak pernah tersebut-sebut.<br /><br />"Saya juga tidak tahu kenapa tidak lolos, sementara persyaratan terpenuhi. Apa karena dinilai saya sebagai karyawan BRI. Kalau memang itu ketentuan sehingga saya tidak dapat bantuan, maka kenapa ada atlet lain yang sudah mapan juga memperoleh bantuan rumah," katanya setengah bertanya.<br /><br />Sejak itu, Erna berhenti memohon, meski banyak pihak yang mendorongnya mengajukan permintaan bantuan pemerintah.<br /><br />Dia kini berkata, "Saya masih berharap, tapi sudah malu untuk mengajukan permohonan itu sebab sudah ketiga kali gagal."<br /><br />Dia mengaku memiliki sebidang tanah, namun tidak memiliki dana untuk membangun rumah.<br /><br />Rumah orang tua yang ditempatinya kini bersama keluarga besar Madjadji itu bahkan pernah rusak parah diterjang tsunami pada 26 Desember 2004.<br /><br />"Saat peristiwa tsunami itu kehilangan beberapa piagam penghargaan serta sejumlah medali yang pernah saya raih di berbagai kejuaraan anggar tingkat nasional dan internasional," paparnya.<br /><br />Empat kali ikut SEA Games di Jakarta pada 1987, dia langsung meraih medali emas beregu nomor floret putri. Kemudian, SEA Games 1991 di Manila, dua medali emas nomor floret perseorangan dan beregu disabetnya.<br /><br />Dua tahun kemudian di Singapura pada ajang yang sama, Erna meraih emas beregu dan perunggu perseorangan nomor floret. Pada SEA Games 1995 di Thailand, dia masih bisa meraih emas dari nomor beregu.<br /><br />Dia pernah turun pada nomor floret putri di ajang Asian Games 1986 di Seoul, Korea Selatan.<br /><br />"Saat itu saya bersama dengan Tono Suratman (Ketua PB Ikasi sekarang) dan sejumlah atlet anggar lainnya," kata dia.<br /><br />Darah anggar dialirkan dari ayahnya yang pensiunan TNI AD, Madjadji. Erna sendiri adalah anak pertama dari enam bersaudara.<br /><br />Dia aktif sebagai atlet anggar sejak 1980 dan berhenti pada 2000 karena faktor usia, kesibukan sebagai ibu rumah tangga, dan pekerjaan.<br /><br />Erna pertama kali menoreh prestasi untuk mengharumkan nama daerah asal kelahirannya, Aceh, pada Pekan Olahraga Nasional (PON) X 1981 di Jakarta.<br /><br />"Saat itu saya masih duduk di kelas satu SMP, dan terpilih sebagai atlet PON mewakili Aceh," kenangnya.<br /><br />Empat tahun kemudian pada PON 1985 dia mempersembahkan medali perunggu nomor floret putri beregu.<br /><br />Selanjutnya dia mempersembahkan emas beregu putri pada PON 1989, bersama Winarni dan Mursina Wati. Pada PON 1994, purunggu nomor floret putri beregu direnggutnya.<br /><br />Pada PON 2000 di Surabaya dia masih bisa meraih perunggu, sementara pada kejurnas dia pernah meraih enam medali emas.<br /><br />Sejak 1989 Erna tercatat sebagai karyawan BRI cabang Banda Aceh, setelah memutuskan meninggalkan bangku kuliah pada Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala Darussalam, Banda Aceh.<br /><br />"Saat itu saya harus memilih apakah melanjutkan kuliah atau bekerja. Pilihan saya bekerja, sambil terus berlatih untuk meningkatkan prestasi di anggar," kisahnya.<br /><br />Kendati telah pensiun dari anggar, dia tetap ingin mengabdikan diri untuk cabang olah raga itu.<br /><br />"Kalau nanti saya dipercaya menjadi pelatih maka saya siap mendidik anak-anak Aceh menggeluti olahraga anggar, dengan harapan mampu berprestasi ditingkat nasional hingga internasional," janjinya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>