Perbatasan Kaltim Dijadikan Pengembangan Rumah Pangan Lestari

oleh

Kawasan perbatasan negara di Provinsi Kalimantan Timur terus didorong untuk pengembangan rumah pangan lestari agar ke depan wilayah itu tidak tergantung dengan daerah atau negara lain, karena memiliki ketahanan pangan. <p style="text-align: justify;">"Pengembangan RPL (rumah pangan lestari) tahun ini kami konsentrasikan di Kampung Batu Majang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu," kata Kepala Bidang Pembinaan Ekonomi dan Dunia Usaha Badan Pembangunan Perbatasan Daerah (BPPD) Provinsi Kaltim Husaini di Samarinda, Minggu.<br /><br />Ia meyakini program RPL dapat meningkatkan kesejahteraan warga di kawasan perbatasan, karena selama ini mereka selalu mendatangkan aneka kebutuhan sehari-hari dari luar daerah, baik dari Kabupaten Kutai Barat maupun dari Samarinda, sehingga harganya cukup melambung tinggi seiring mahalnya ongkos angkut.<br /><br />Setelah adanya pengembangan RPL, warga di perbatasan bisa memenuhi kebutuhan pangan sendiri, sehingga uang yang sebelumnya digunakan untuk membeli kebutuhan pokok bisa ditabung atau digunakan untuk kebutuhan lain.<br /><br />Menurut Husaini, program RPL di Kecamatan Long Bagun yang dijalankan pada 2015 ini merupakan tahun kedua, sedangkan tahun sebelumnya sudah dilakukan program pembangunan rumah dan kawasan budidayanya di kampung yang sama.<br /><br />"Sekarang kita bantu pemberian bibit di program RPL ini, baik bibit sayur mayur maupun bibit ikan. Tentunya ikan yang cocok dikembangkan oleh masyarakat di perdesaan tersebut," ujarnya.<br /><br />Selain sayur-mayur, BPPD Kaltima juga membantu bibit cabai untuk dikembangkan masyarakat setempat, karena cabai merupakan salah satu komoditas yang dibutuhkan warga, bahkan sering menjadi pemicu naiknya inflasi akibat permintaan yang tinggi sedangkan stoknya sulit didapat.<br /><br />Untuk pengadaan bibit, lanjut dia, BPPD Kaltim membeli bibit sayur mayur dan ikan dari petani setempat, kemudian dikembangkan di RPL.<br /><br />Hasilnya budidaya itu kemudian kembali dijual ke masyarakat setempat, karena selama ini produksi warga masih belum mampu memenuhi kebutuhan lokal.<br /><br />Untuk pengembangan perikanan, kata Husaini, dulu sudah pernah dibantu bibit ikan mas dan nila, tapi program itu gagal karena masyarakat kesulitan memperoleh pakan.<br /><br />Setelah dilakukan koordinasi dan kajian, kemudian disepakati pengembangan ikan lele karena jenis ikan ini lebih mudah dibudidayakan. (das/ant)</p>