Perhutani Pilih Komunikasi Sosial Untuk Amankan Hutan

oleh

Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah mengatakan lebih memilih pendekatan komunikasi sosial dengan masyarakat dalam upaya mengamankan hutan dibandingkan dengan cara represif. <p style="text-align: justify;">Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah mengatakan lebih memilih pendekatan komunikasi sosial dengan masyarakat dalam upaya mengamankan hutan dibandingkan dengan cara represif.<br /><br />"Kami mulai mengoptimalkan komunikasi dengan masyarakat sebagai langkah preventif pengamanan hutan," kata Kepala Perum Perhutani Unit I Jateng, Heru Siswanto, di Semarang, Selasa.<br /><br />Ia menjelaskan, sebagai implikasi dari pemilihan langkah pendekatan dalam pengamanan hutan itu, pihaknya menarik senjata yang digunakan oleh organ keamanan hutan Perum Perhutani Jateng.<br /><br />Ia mengatakan, cara pendekatan tersebut lebih efektif dibandingkan dengan langkah pengamanan secara represif, mengingat berbagai kawasan hutan tidak dipagar dan berdekatan dengan permukiman.<br /><br />"Kalau seperti itu, cara efektif mengamankan hutan harus dengan mengajak masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan, sekaligus memberdayakan masyarakat," katanya.<br /><br />Pemberdayaan masyarakat sekitar dalam pengelolaan dan pengamanan hutan, katanya, secara tidak langsung ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat kawasan itu.<br /><br />"Kami tidak mungkin bisa bekerja sendiri dalam mengamankan hutan, apalagi dengan jumlah karyawan-karyawati Perum Perhutani Jateng yang hanya sekitar 10.000 orang," katanya.<br /><br />Karena itu, katanya, Perum Perhutani Jateng mengajak masyarakat sekitar untuk ikut menjaga hutan dengan berbagai program pemberdayaan seperti lembaga masyarakat desa hutan (LMDH).<br /><br />"Setidaknya saat ini sudah ada 1.927 LMDH yang beranggotakan sekitar 1,3 juta kepala keluarga yang tinggal di sekitar kawasan hutan milik Perum Perhutani Jateng," katanya.<br /><br />Kalau misalnya dalam setiap KK terdiri atas empat orang, katanya, berarti ada sekitar 10 juta orang yang tinggal di sekitar kawasan hutan yang ikut menjaga kelestarian hutan.<br /><br />"Langkah pengamanan hutan melalui pendekatan ini terbukti mampu menurunkan tingkat kerugian gangguan keamanan hutan, dari Rp3.214.031 pada 2009 turun menjadi Rp2.014.582 pada 2010," kata Heru. (Eka/Ant)</p>