Perkantoran Pemprov Kalsel Bakal Miliki Kebun Raya

oleh

Pusat perkantoran pemerintah provinsi (Pemprov) Kalimantan Selatan di Banjarbaru (35 Km utara Banjarmasin), kemungkinan satu-satunya kawasan perkantoran di Indonesia, yang dirancang bakal memiliki kebun raya. <p style="text-align: justify;">Hal itu dikemukakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kalsel, Hj Suriatinah dalam jumpa pers bulanan gubernur/Pemprov setempat bekerjasama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), di Banjarmasin, Kamis.<br /><br />Ia menerangkan, dari luasan kawasan pusat perkantoran Pemprov Kalsel 500 hektare (ha) di "kota idaman" Banjarbaru itu, diantaranya atau sekitar 122,13 ha bakal dijadikan kebun raya.<br /><br />Tujuan mendirikan kebun raya tersebut antara lain, untuk menyelematkan hayati tumbuh-tumbuhan khas Kalimantan dan Indonesia pada umumnya, terutama tumbuh-tumbuhan berkhasiat sebagai obat.<br /><br />Selain itu, menyediakan sarana untuk kepentingan pendidikan, sehingga dapat memberikan motivasi untuk tetap melestarikan dan mengembangkannya, serta sebagai media penelitian melalui berbagai metode rekayasa dan pilihan sarana rekreasi alternatif.<br /><br />Sedangkan manfaat yang diharapkan dari kebun raya itu nantinya, antara lain keanekaragaman sumberdaya hayati tumbuhan berkhasiat obat khas Kalimantan akan lebih terjamin kelestariannya, serta menjadi ikon bagi Prov Kalsel dan kebanggaan masyarakatnya.<br /><br />Pasalnya dari 7.500 jenis tumbuhan yang merupakan koleksi Indonesia dan diketahui berkhasiat obat sebanyak 370 jenis, termasuk pada kelompok "etnofarmakologi" yang sudah digunakan dengan mengacu pada warisan pengetahuan tradisional sejak ratusan, bahkan ribuan tahun.<br /><br />Kemudian dari sejumlah jenis tumbuhan berkhasiat obat tersebut, diantaranya atau sekitar 200 jenis berada di Kalimantan, ungkapnya didampingi Kepala Biro Humas Sekretariat Daerah Kalsel, Hermansyah.<br /><br />Oleh karenanya potensi kebun raya daerah itu dengan fokus "tumbuhan berkhasiat obat Indonesia" diharapkan dalam jangka menenegah dan panjang ke depan dapat mendukung sisi hilir, yaitu tentang pengobatan tradisional yang dimulai dari ruang lingkup produk jamu.<br /><br />"Sebab dari 300 jenis tanaman obat yang digunakan oleh industri jamu, baru 50 yang dibudidayakan dan hanya 13 diantaranya yang secara intensif dikembangkan," demikian Suriatinah. <strong>(phs/Ant)</strong></p>