Personel Pamtas Bradja Yudha Jadi Guru Bantu

oleh
oleh

Anggota pasukan pengamanan perbatasan Batalion Infanteri Linud-501/Bradja Yudha menjadi guru bantu di SD Negeri 13 Guna Baner, Kecamatan Sekayam, wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. <p style="text-align: justify;">SDN 12 Dusun Guna Baner Desa Sungai Tekam Kecamatan Sekayam hanya memiliki empat guru PNS dan dua guru honorer saat ini sudah mengundurkan diri.<br /><br />Sekolah Dasar milik pemerintah ini memiliki enam kelas dengan jumlah murid 175 orang.<br /><br />"Sungguh suatu kondisi sangat memprihatinkan bagi anak-anak dalam mengejar cita-citanya karena sekolah masih minim tenaga pengajar," kata guru bantu Pamtas Pratu Harianto saat ditemui di Guna Baner, Senin.<br /><br />Ia mengatakan jumlah murid yang cukup banyak dan lokal kelas ada enam sulit bagi tenaga pendidik untuk membagi jam mengajar. Karena itu ia kini mengajar PPKN, Seni, Jasmani dan Pramuka.<br /><br />Pratu Herianto mengajar sejak tiga bulan terakhir. Ia merupakan personel yang memang disiapkan untuk menjadi guru bantu di perbatasan. Tugasnya adalah membantu pemerintah mengisi kekosongan guru di sekolah perbatasan.<br /><br />Setiap hari mulai pukul 06.30 WIB sampai 14.00 WIB, Pratu Harianto harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer untuk bertemu dengan murid-muridnya. Ketika tiba di sekolah, anak-anak didiknya menyambut dengan sukacita.<br /><br />Menurut Harianto, anak didiknya merupakan siswa-siswa yang cerdas. Walaupun mereka hidup dengan segala kekurangan namun semangat belajar mereka sangat tinggi. Hal inilah yang membuat Pratu Harianto semakin bersemangat untuk mengajar mereka setiap hari.<br /><br />"Mereka adalah semangat saya untuk datang mengajar ke sekolah tersebut, lelah kaki ini berjalan terobati dengan melihat senyum ikhlas mereka saat saya masuk kelas," ujar Pratu Harianto.<br /><br />Kondisi sekolah sudah dibangun menggunakan semen, sementara rumah singgah bagi guru dalam kondisi yang memprihatinkan. Sampai saat ini SDN 12 Guna Baner masih kekurangan buku-buku pelajaran, alat tulis, buku tulis, kapur tulis, tas sekolah,seragam sekolah, sepatu sekolah,sarana olah raga untuk murid-muridnya.<br /><br />Buku-buku yang banyak dibutuhkan adalah Bahasa Indonesia, Matematika, Penjas, IPA, dan IPS.<br /><br />"Kebanyakan anak didik saya tidak menggunakan sepatu, dan ada yang telanjang kaki," ungkap Harianto.<br /><br />Sementara itu, Kepala Sekolah SDN 12 Guna Baner, Elvia mengatakan kekurangan guru menjadi persoalan di sekolah yang dipimpinnya.<br /><br />Jika salah satu guru berhalangan masuk maka guru yang ada akan rangkap mengajar, tidak jarang juga anak-anak diistirahatkan dahulu sambil menunggu jam kedua untuk masuk ke kelas.<br /><br />"Usulan penambahan guru sudah kerap disampaikan kepada pemerintah tetapi sampai saat ini belum ada penambahan," jelas Evi.<br /><br />Ia mengaku sangat beruntung ada personel Pamtas yang bersedia membantu mengajar untuk mengisi kekosongan guru di SDN 12 Guna Baner.<br /><br />Evi mengakui dengan adanya bantuan guru dari Pamtas sangat membantu tenaga pendidik di dalam proses belajar dan mengajar.<br /><br />Di tempat terpisah Ketua Komite Sekolah SDN 12 Guna Baner Alfonsius Mei menyatakan sekolah tersebut dulunya memiliki enam guru, yakni empat guru PNS dan dua guru honorer. Karena guru honorer tidak mendapatkan tunjangan perbatasan menyebabkan mereka mengundurkan diri.<br /><br />Dengan mundurnya tenaga honorer mengakibatkan SDN 12 menjadi kekurangan guru, oleh sebab itu Alfonsius berharap pemerintah bisa menambah guru PNS di sekolah andalan warga di Dusun Guna Baner Desa Sungai Tekam.<br /><br />"Minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya cukup tinggi, sayangnya tidak dibarengi dengan penempatan tenaga pendidik yang merata," ucapnya. <strong>(das/ant)</strong></p>