Perusahaan Swasta Lakukan Konservasi Selamatkan Bekantan

oleh

Satu perusahaan swasta bidang pertambangan batubara, PT Antang Gunung Meratus, yang beroperasi di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, melakukan konservasi lahan rawa untuk selamatkan kera hidung panjang Bekantan (Nasalis larvatus). <p style="text-align: justify;">Deputi Direktur Umum PT Antang Gunung Meratus, Budi Karya Yugi di Rantau, Kabupaten Tapin, Kamis, menyebutkan, perusahaan bersedia mengeluarkan uang miliaran rupiah hanya untuk konservasi lahan rawa yang rusak akibat terbakar dan merusak habitat kera yang menjadi maskot Kalsel tersebut.<br /><br />"Kami kini sedang melakukan konservasi lahan rawa yang tadinya ditumbuhi hutan galam dan kayu polantan yang rusak akibat terbakar masa musim kemarau lalu, untuk menyelamtkan kera Bekantan itu," katanya bersama Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).<br /><br />Menurut dia, pengelolaan konservasi tersebut adalah berasal dari dana CSR perusahaan untuk melakukan penghijauan, penanaman kembali bibit galam, polantan, lukut, dan tanaman hutan rawa lainnya.<br /><br />Melalui penanaman kembali tersebut, akan merehabilitasi pohon yang rusak yang terbakar dan kini sudah berdaun muda untuk makanan satwa Bekantan, sehingga sekitar 300 ekor bekantan di kawasan tersebut bisa diselamatkan.<br /><br />Bahkan kawasan tersebut akan dijadikan lokasi ekowisata dan ternyata hal tersebut direspon oleh Pemerintah Kabupaten Tapin hingga menetapkan kawasan Desa Tandui dan Lawahan Kecamatan Tapin Selatan yang selama ini lokasi habitat Bekantan menjadi kawasan ekowisata.<br /><br />Kawasan yang ditetapkan menjadi ekowisata oleh pemerintah setempat seluas 90 hektare, artinya jika perusahaan mengkonservasi 16 hektare berarti ada luasan 74 hektare yang menjadi tanggungjawab pemerintah setempat mengkonservasinya.<br /><br />Untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai wilayah ekowisata PT Antang Gunung Meratus sudah membuatkan dermaga "klotok" (perahu motor tempel) ke wilayah tersebut, sekaligus menyediakan sarana jalan kaki sekaligus menara pantau.<br /><br />"Kita ingin pengunjung tak bersentuhan langsung atau berdekatan dengan Bekantan karena satwa tersebut terlalu pemalu atau penakut dengan pengunjung, karena itu kita sediakan menara pantau saja, mulai menara pantau itulah pengunjung bisa menyaksikan kehidupan kera endemik pulau Borneo tersebut," katanya.<br /><br />Mengutip keterangan Pemkab setempat, Budi Karya Yugi menuturkan kedepan selain bisa dilalui melalui wisata susur sungai, juga akan disediakan jalan darat dari Jalan A yani kabupaten itu hingga ke lokasi, sehingga pengunjung bisa pakai mobil.<br /><br />Ia mengharapkan dengan adanya konservasi tersebut akan menjadikan wilayah yang berada dekat dengan kanal pengangkutan batubara PT Antang Gunung Meratus tersebut menjadi objek wisata andalan Kabupaten Tapin, bahkan Kalsel, karena disitulah habitat Bekantan terbanyak. (das/ant)</p>