Petani Batola Kalsel Keluhkan Masalah Pupuk

oleh

Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan H Riduan Masykur dari Partai Bintang Reformasi, mengungkapkan, petani di Kabupaten Barito Kuala (Batola) mengeluhkan masalah kelangkaan dan harga pupuk yang tinggi. <p style="text-align: justify;">Keluhan masalah pupuk salah satu permasalahan yang dikemukakan warga kepada wakil rakyat dari PBR itu saat reses ke Batola, yang merupakan asal daerah pemilihannya pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2009, demikian dilaporkan, Rabu.<br /><br />Dalam resesnya selama tiga hari pekan lalu, anggota Komisi I bidang hukum dan pemerintahan DPRD Kalsel itu, antara lain menemui konstituen yang ada di wilayah Kecamatan Rantaubadau, Barambai dan Kecamatan Wanaraya.<br /><br />Petani setempat, baik yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) maupun non Gapoktan, mengeluh masalah pupuk karena selain sulit mendapatkan, juga harga pasaran yang tinggi.<br /><br />Sebagai contoh pupuk bersubsidi seharga Rp80.000/zak (isi 50 Kg), sedangkan harga pasaran (non subsidi) mencapai Rp100.000/zak dan bahkan bisa lebih lagi, ungkap anggota DPRD Kalsel dua periode dari PBR itu.<br /><br />"Sementara mereka akan memulai bercocok tanam padi sawah dan mengenai pupuk, merupakan masalah warga tani Batola sejak lama, bukan cuma pada musim tanam (MT) 2011," lanjutnya didampingi rekan satu komisi, H Mansyah Sabri dari Partai Golkar.<br /><br />Oleh karena itu, mereka mengharapkan, pemerintah, baik tingkat kabupaten setempat maupun provinsi Kalsel, mengupayakan penyediaan pupuk bersubsidi dan jangan sampai terjadi kelangkaan saat membutuhkan.<br /><br />"Mereka sangat mengharapkan pupuk bersubsidi. Karena kalau pupuk berdasarkan harga pasaran, maka tak terjangkau untuk membelinya serta bisa tidak sesuai dengan hasil usaha tani," ungkapnya.<br /><br />Menanggapi permasalahan tersebut, wakil rakyat dari PBR itu akan mengkomunikasikan dengan anggota komisi DPRD Kalsel yang membidangi serta instansi terkait, seperti Dinas Pertanian Tanaman Pangan.<br /><br />"Sebab tanpa mendapat perhatian, dikhawatirkan tingkat produksi padi Batola bisa tak mencapai target. Sedangkan Batola salah satu sentera pertanian yang juga penyangga ketahanan pangan Kalsel," demikian Riduan.<br /><br />Penduduk Batola yang merupakan daerah penerima transmigrasi itu sebagian besar atau lebih 70 persen bertani, dengan sistem pertanian antara lain dengan pengairan berupa pasang surut dan tadah hujan. <strong>(phs/Ant)</strong></p>