Petani Dairi Keluhkan Fluktuatifnya Harga Kopi

oleh

Sebagian kalangan petani dan pedagang pengumpul biji kopi di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, mengeluhkan perkembangan harga kopi jenis Arabika yang sejak beberapa bulan lalu kerap berfluktuasi di tingkat eksporter. <p style="text-align: justify;">Sebagian kalangan petani dan pedagang pengumpul biji kopi di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, mengeluhkan perkembangan harga kopi jenis Arabika yang sejak beberapa bulan lalu kerap berfluktuasi di tingkat eksporter.<br /><br />"Harga biji kopi Arabika di tingkat eksporter di Medan sejak beberapa bulan lalu hingga sekarang ini sering berfluktuasi, sehingga tidak jarang merugikan petani dan pedagang pengumpul," kata Melly Boru Girsang, pedagang pengumpul biji kopi di Desa Pegagan Julu I, Kecamatan Sumbul, Dairi, Minggu.<br /><br />Disebutkannya, harga biji kopi Arabika asal Dairi dengan kadar kering lebih dari 80 persen di tingkat eksporter pekan ini hanya sekitar Rp50 ribu per kilo gram (kg). Posisi harga biji kopi Arabika pekan ini, lanjut dia, relatif lebih rendah dibanding dengan harga dua pekan lalu yang sempat beberapa hari bertahan di kisaran Rp54 ribu per kg, meski sekitar satu bulan sebelumnya turun hingga ke posisi Rp48 ribu per kg.<br /><br />Dari sisi biaya pemeliharaan tanaman dan proses penjemuran biji kopi, menurut dia, fluktuasi harga rentan merugikan petani dan kalangan pedagang pengumpul biji kopi di daerah itu yang umumnya juga memiliki usaha penjemuran biji kopi.<br /><br />"Usaha budidaya tanaman kopi tergolong banyak tantangan dan biaya pemiliharaannya hingga pasca panen tergolong besar. Untuk mencegah resiko rugi, harga jual kopi diharapkan bisa stabil dan bahkan dapat bergerak naik," ujarnya.<br /><br />Penanganan pasca panen kopi membutuhkan waktu dan komponen biaya relatif besar, yaitu mulai dari proses menjemur, mengupas dan menjemur lagi sampai kering.<br /><br />Menurut Melly, fluktuasi harga biji kopi cenderung dipengaruhi oleh posisi tawar petani dan pedagang pengumpul yang hingga kini masih relatif lemah terehadap eksporter.<br /><br />Untuk memperkuat posisi tawar petani dan pedagang pengumpul, kata dia, pemerintah melalui instansi terkait perlu segera mengeluarkan kebijakan yang bertujuan mendorong pertumbuhan jumlah pelaku usaha eksporter kopi, sehingga petani dan pedagang pengumpul tidak lagi tergantung dengan eksporter tertentu.<br /><br />Dia juga berharap, pemerintah perlu memfasilitasi petani dan pedagang pengumpul di sejumlah sentra produksi kopi dengan perangkat teknologi yang menyediakan berbagai informasi seputar perkembangan dan analisis terbaru mengenai harga kopi, baik di pasar domestik maupun internasional.<br /><br />Areal produksi kopi di Dairi tersebar di 13 kecamatan dengan luas pertanaman kopi robusta diperkirakan mencapai 14 ribu hektare lebih dan Arabika baru sekitar enam ribu hektare.<br /><br />Dia membenarkan, perkembangan harga jual kopi yang relatif tidak stabil menjadi salah satu penyebab banyak petani di daerah itu beralih mengembangkan tanaman lain, di antaranya jeruk. (Eka/Ant)</p>