Petani Desak Pemerintah Tidak Tutup Keran Ekspor

oleh

Ribuan petani, pengumpul dan eksportir rotan di Pulau Kalimantan mendesak pemerintah agar tetap membebaskan dan tidak menutup "keran" ekspor komoditas rotan. <p style="text-align: justify;">"Pemerintah hendaknya berpikir 1.000 kali untuk melarang kami melakukan ekspor rotan karena pelaku usaha lokal tidak mampu menampung hasil rotan budidaya dan alam yang jumlahnya sekitar 34 jenis," kata Hermanus, salah seorang petani rotan saat dihubungi Nanga Pinoh Provinsi Kalimantan Barat, Rabu.<br /><br />Keresahan petani rotan Pulau Kalimantan tersebut menjelang berakhirnya Peraturan Menteri Perdagangan No.36/M-DAG/PER/8/2009 sehingga tetap berharap pemerintah membuka keran bagi mereka untuk ekspor rotan.<br /><br />Dalam pertemuan ARKI di Palangkaraya, 17 Juni lalu yang dihadiri oleh perwakilan petani, pengumpul, eksportir dari beberapa kabupaten Provinsi Kalbar, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan mendesak, pemerintah tetap membuka keran ekspor rotan.<br /><br />Ia menjelaskan, pihaknya siap memasok hasil rotan ke pabrik rotan kalau alasan penutupan ekspor rotan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.<br /><br />"Tetapi suplai itu tersandung harga yang sangat murah sehingga kami merugi," kata Julius salah seorang petani rotan dari Kabupaten Katingan Propinsi Kalimantan Tengah saat dihubungi.<br /><br />Ia berharap, pemerintah juga merevisi kebijakan HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu) agar dipermudah karena banyak petani dan pengumpul mengeluhkan perijinan tersebut, serta pembayaran pajak dibebankan pada pengumpul bukan pada petani.<br /><br />Sementara itu, Wakil Ketua Asosiasi Rotan Kalimantan Indonesia Rudyzar mengatakan, hasil komoditas rotan dari hutan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi atau Indonesia umumnya telah memenuhi kebutuhan rotan dunia sekitar 50 persen, sisa dipenuhi oleh Malaysia, Filipina, Kamboja, Laos, Vietnam, Brazilia, dan Ekuador.<br /><br />Menurut dia, hasil komoditas rotan Indonesia didominasi dari Pulau Kalimantan yang sebagian besar diperoleh dari alam, seperti jenis rotan jelayan (Calamus ornatus Blume), semambu (Calamus scipionum Loureiro), rotan Cl (Daemonorops angustifola Griff) dan lain-lain.<br /><br />Rudyzar menjelaskan, dampak ditutupnya keran ekspor rotan Indonesia akan memposisikan Malaysia sebagai pengekspor rotan terbesar, devisa negara dari sektor itu akan berkurang, tingkat pengangguran akan bertambah, petani rotan akan beralih ke sektor lain, seperti menjadikan lahannya untuk ditanami sawit.<br /><br />"Negara lain akan bertepuk tangan karena membuka peluang untuk mengekspor rotan sebanyak-banyaknya," kata Rudyzar.<br /><br />Devisa negara dari sektor rotan masih bisa ditingkatkan lagi dengan menambah jenis rotan yang boleh diperdagangkan. "Tentunya untuk itu diperlukan aturan dari pemerintah sehingga petani bisa membudidayakan rotan yang diperbolehkan karena praktik budidaya rotan sudah dilakukan sejak 1800 Masehi," ujarnya.<br /><br />Masyarakat pedalaman juga gemar menanam rotan bersamaan dengan aktivitas berladang mereka sehingga orang luar sulit mengenal rotan budidaya (kebun) atau hutan.<br /><br />Adapun jenis rotan hasil budidaya yang ada di Kalimantan, yakni rotan sega (Calamus caesius Blume), jahab/irit (Calamus trachycoleus Beccari), pulut merah (Daenomorops crinita Miq Bl) manau (Calamus manan Miq), dan pulut putih (Calamus penicillatus Roxb).<br /><br />"Ada satu jenis rotan yang dibudidaya itu yang paling istimewa yakni jenis pulut merah dengan warna kulit merah kecoklat-coklatan dan hanya tumbuh di kawasan sungai," katanya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>