Petani Di Kotawaringin Timur Gagal Panen

oleh
oleh

Petani di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, merugi jutaan rupiah karena padi mereka rusak akibat kekeringan yang hingga kini masih melanda daerah ini. <p style="text-align: justify;">"Makanya saya turun ke desa-desa memantau dampak kekeringan ini. Masyarakat berharap kekeringan ini segera berakhir," kata Nasrudin, Camat Teluk Sampit, Senin.<br /><br />Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kotawaringin bahwa kekeringan masih melanda empat kecamatan yaitu Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara dan Pulau Hanaut. Teluk Sampit menjadi daerah yang dilanda kekeringan cukup parah sehingga ratusan hektare padi milik petani setempat, rusak akibat kekurangan air.<br /><br />Dinas Pertanian, Peternakan, Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kotawaringin Timu menerima laporan, sudah ada 272 hektare padi di Desa Lempuyang yang rusak akibat kekeringan. Saat ini sedang dilakukan pendataan di daerah lainnya.<br /><br />Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan Teluk Sampit, Ratijo mengatakan, kekeringan memang menjadi momok yang sedang dihadapi di Kotim saat ini, termasuk di Kecamatan Teluk Sampit.<br /><br />Sejumlah desa yang mengalami kekeringan seperti Desa Basawang, Parebok, Lempuyang, Kampung Bugis, Reage dan sekitarnya. Diperkirakan hanya sekitar 25 persen padi yang bisa dipanen, sisanya rusak akibat kekeringan.<br /><br />"Petani mengalami kerugian untuk pembelian bibit, pupuk, upah pembersihan lahan dan lainnya. Kalau dihitung-hitung tiap hektare itu menghabiskan sekitar Rp4 juta untuk proses tanam," kata Ratijo.<br /><br />Kekeringan yang terjadi saat ini menyebabkan penanaman periode Asep (April-September) menjadi terganggu, bahkan banyak tanaman yang rusak. Bahkan untuk musim tanam Okmar (Oktober-Maret) molor karena hingga saat ini intensitas hujan masih sangat rendah.<br /><br />"Kami juga berharap anggaran yang dikucurkan untuk Dinas Pertanian Peternakan, Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kotim mencukupi untuk membantu petani, seperti pembuatan pintu air sehingga sawah tidak sampai kekeringan meski saat kemarau," jelas Ratijo. (das/ant)</p>