Petani Karet Menjerit Harga Makin Anjlok

oleh

Petani karet disejumlah wilayah di Sekadau semakin teriak, pasca menurunnya harga karet. Saat ini harga karet yang anjlok hingga Rp. 3.500 per kilogram membuat susah petani karet. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlama-lama. <p style="text-align: justify;">Imbas dari komiditi karet yang menurun cukup besar, ekonomi masyarakat khususnya petani karet pun turun drastis. Tak pelak, kegiatan kredit di Bank, CU, dan angsuran kendaraan bermotor pun ikut tersendat. <br /><br />“Kredit CU saya pun lama tidak dibayar gara-gara karet ini turun harganya,” Ulbanus, seorang petani karet. Pria berbadan jangkung ini pun harus mencari pekerjaan lain selain menyadap getah, sebagai tanggungjawab angsuran pinjman bulananya.  <br /> <br />Anggota DPRD kabupaten Sekadau, Radius Effendy, sangat menyanyangkan harga komoditi karet yang makin anjlok. Menurut radius, harus ada solusi dari Pemerintah. <br /> <br />“Harus segera dicarikan solusi yang tepat untuk mengatasinya,” ujar Radius Effendy, anggota DPRD Sekadau, menjawab Media massa.<br /> <br />Radius menyakini, melorotnya harga jual karet dikarenakan harga pasaran dunia sedang turun. Hal itu diperparah dengan mutu karet Indonesia, termasuk Kalbar dan Sekadau yang berada jauh dibawah standar karet dunia.<br /> <br />“Harga pasaran karet dunia itu kan Rp 15 ribu per kilogramnya. Sedangkan mutu karet kita di Sekadua ini rata-rata hanya 40 persen, makanya harganya pun rendah,” tutur politisi Dapil Sekadau II itu.<br /> <br />Rendahnya mutu karet itu, dipastikan Radius, karena ketidakpahaman sejumlah petani karet dalam mengolah karet. Karena itu ia meminta agar pemerintah, pengusaha dan petani karet duduk satu meja.<br /> <br />“Pemerintah dan pengusaha karet harus memberikan bimbingan kepada petani karet bagaimana cara pengolahan karet yang baik dan benar. Dengan begitu, mutu karet kita bisa ditingkatkan, dan harga jualnya pun bisa meningkat,” pungkasnya. <strong>(Mto/kn)</strong></p>