Petani Kotim Kesulitan Dapat BBM

oleh

Masyarakat Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah mengeluh karena sulit mendapat bahan bakar minyak dalam beberapa hari terakhir seperti dihadapi kelompok tani daerah tersebut. <p style="text-align: justify;">"Kami sangat sulit mendapat BBM dengan harga normal seperti di SPBU Rp4.500/liter, sementara di tingkat pengecer mahal mencapai Rp7.000/liter," kata Ketua Kelompok Tani Ujung Pandang desa Bapeang Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Mapease di Sampit, Jumat.<br /><br />Mereka mengharapkan dicarikan solusinya, sehingga aktivitas para petani bisa mendapat BBM seperti biasa. Petani saat ini tidak bisa menggunakan handtractor untuk mengolah lahan karena tidak mendapat BBM seperti biasa.<br /><br />Mapease mengatakan tidak tahu penyebab petani kesulitan mendapat BBM dengan harga normal karena pihak SPBU menolak jika mereka membeli dalam jumlah besar, padahal pengoperasian handtractor membutuhkan BBM yang cukup banyak.<br /><br />"Pengelola SPBU meminta surat dari Dinas Pertambangan, baru mau melayani BBM solar atau premium untuk pengoperasian handtractor. Kalau harus seperti itu kami sangat kesulitan, apalagi kalau harus mengurus jauh-jauh ke Sampit," ujarnya.<br /><br />Pemerintah daerah diminta turun tangan membantu petani mengatasi masalah ini karena sudah terjadi cukup lama. Sulitnya mendapat BBM tersebut diakui berdampak terhadap kemampuan petani dalam mengolah lahan pertanian seperti diharapkan.<br /><br />Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kotim, Jakatan, menanggapi keluhan tersebut dan meminta masing-masing kelompok tani membuat daftar rincian nama-nama petani serta berapa banyak BBM yang dibutuhkan sehingga bisa difasilitasi.<br /><br />"Saya sudah bicara dengan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi dan kini ditunggu data base itu. Data itu akan diserahkan kepada pengelola SPBU supaya dilayani. Kami harapkan segera didata sehingga kita bisa secepatnya diserahkan ke Dinas Pertambangan dan Energi," kata Jakatan.<br /><br />Diharapkan pendataannya dilakukan secara teliti dan sesuai kebutuhan. Ini penting agar solusinya tidak berdampak kurang baik jika sampai permintaan BBM tersebut tidak sesuai kebutuhan sehingga pengelola SPBU akhirnya enggan melayani.<br /><br />Pantauan di lapangan, sebagian SPBU kini membatasi pembelian BBM kepada masyarakat umum. Namun ironisnya, pedagang pengecer premium justru cenderung bertambah di tengah keluhan masyarakat yang kesulitan mendapat BBM. <strong>(das/ant)</strong></p>