Para petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Cabang Pabrik Gula Rejo Agung Baru (RAB), Madiun, Jawa Timur, menolak rendahnya harga pembelian pemerintah (HPP) gula pasir tahun 2011 yang hanya Rp7.000 per kilogram. <p style="text-align: justify;">Para petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Cabang Pabrik Gula Rejo Agung Baru (RAB), Madiun, Jawa Timur, menolak rendahnya harga pembelian pemerintah (HPP) gula pasir tahun 2011 yang hanya Rp7.000 per kilogram.<br /><br />Ketua APTRI Pabrik Gula Rejo Agung Baru Madiun, Suwandi, Minggu, mengatakan, HPP gula sebesar Rp7.000/kg dinilai sangat memberatkan para petani tebu.<br /><br />"Dengan HPP sebesar itu yang diperparah dengan anjloknya tingkat rendemen, maka petani akan merugi sekitar Rp5 juta lebih untuk setiap hektare," ujarnya.<br /><br />Menurut dia, dengan HPP sebesar Rp7.000 per kilogram, maka penghasilan petani untuk tiap hektare tebu dengan produksi sekitar 1.000-1.100 kuintal tebu hanya mencapai Rp29 juta hingga Rp30 juta.<br /><br />Sementara, biaya pokok produksi tebu di daerah Madiun dan sekitarnya mencapai Rp33 juta hingga Rp35 juta per hektare. Biaya pokok produksi ini terus mengalami kenaikan cukup signifikan, terutama untuk sewa lahan dan biaya tebang serta angkut.<br /><br />"Meski HPP gula tahun ini naik dari tahun lalu, namun hal tersebut belum mampu menutup biaya operasional yang dikeluarkan petani. HPP gula pasir tahun 2010 sebesar Rp6.350 per kilogram," katanya.<br /><br />Ia menilai HPP gula idealnya Rp7.500/kg, mengingat penghitungan biaya produksi gula rata-rata mencapai Rp6.500 per kilogram. Jika ditambah dengan "profit margin" minimal 10 persen, maka petani masih untung Rp500 setiap kilogramnya.<br /><br />Jika keadaan ini berlangsung secara terus-menerus pada setiap musim giling, dikhawatirkan pentani enggan menanam tebu lagi. Secara tidak langsung, hal ini akan berdampak pada ketersediaan gula di pasaran dan mengancam program pemerintah untuk swasembada gula pada tahun 2014.<br /><br />"Kalau kondisinya seperti ini, bukan tidak mungkin para petani tebu akan beralih untuk menanam tanaman lain yang lebih menguntungkan," kata Suwandi.<br /><br />Keadaan ini masih diperparah dengan rendahnya harga lelang gula pada awal musim giling tahun ini. Pada lelang pertama Selasa (10/5), harga gula tertinggi hanya Rp8.250/kg. Satu pekan kemudian harga ini anjlok ke posisi Rp8.140/kg.<br /><br />Kondisi ini kurang berpihak pada petani karena harga cenderung sulit terangkat naik dan justru akan semakin merosot. Itu berarti pendapatan petani semakin menurun.<br /><br />APTRI Pabrik Gula Rejo Agung Baru Madiun memiliki sedikitnya 350 anggota kelompok tani dengan luas lahan garapan mencapai 3.300 hektare. Lahan tersebut berada tersebar di beberapa kabupaten, seperti Madiun, Magetan, Ponorogo, Ngawi, dan Bojonegoro.<br /><br />Hal yang sama diungkapkan oleh salah satu petani anggota APTRI Cabang Pabrik Gula Pagotan, Kabupaten Madiun, Sudiro.<br /><br />Ia mengatakan, saat ini para petani semakin khawatir dengan harga gula yang semakin merosot, sebab stok gula di pasaran sangat berlimpah, di antaranya karena semua pabrik gula sedang melakukan buka giling, seperti Pabrik Pagottan yang mulai giling pada Sabtu (21/5).<br /><br />"Juga karena hadirnya gula rafinasi di pasar tradisional maupun swalayan. Peredaran gula rafinasi secara bebas, membuat harga gula petani anjlok," kata Sudiro.(Eka/Ant)</p>


















