Petani MPE Ngeluh Banyak Potongan

oleh

Para petani kelapa sawit PT PT Multi Prima Entakai (MPE) yang tergabung dalam KUD KUD Renyang Bersatu Empetai memprotes kebijakan perusahaan yang disinyalir melakukan banyak potongan. <p style="text-align: justify;">KUD dan petani setempat menilai pemotongan yang dilakukan diluar akal sehat. Belum lagi, pola kemitraan yang diterapkan selama ini dianggap jauh dibawah standar. Pemotongan belakangan makin menggila setelah krisis global.<br /><br />“Kami di KUD kewalahan mengurus pola mitra atau revitalisasi, karena kebijakan anggaran sepenuhnya dikendalikan perusahaan. Sejauh ini KUD sebatas alat perantara saja, bisa dikatakan perusahaan yang pegang stir dan KUD jadi kulinya,” ungkap ketua KUD Renyang Bersatu Empetai, Albertus Wawan.<br /><br />Wawan membenarkan banyaknya potongan yang diberlakukan perusahaan. Beberapa item pemotongan diantaranya untuk perawatan kebun, pemupukan, panen, angkutan, hingga teknik sipil. “Semuanya dikelola MPE, mengapa besar potongannya,” tanya Wawan.<br /><br />Artinya, selain membayar pekerjaan, petani juga secara tak langsung membayar fee mandor maupun pengawas. Hal ini menurut petani sangat aneh. Sebab, petani juga ikut menggaji karyawan perusahaan.<br /><br />Selain itu, ada juga biaya potongan Pph 22 tentang penjualan TBS sebesar 0,25 persen. Padahal, menurut petani mereka tidak layak dikenakan pajak tersebut karena mereka tidak mendapatkan hasil.<br /><br />“Ada juga biaya fee pengurus 3 persen, angsuran kredit 40 persen, itu memang sesuai kesepakatan dengan petani. Yang anehnya lagi ada operasional fee 5 persen dari hasil kotor untuk mengaji staf MPE yg terlibat di mitra. Tentu ini sangat kami sesalkan, para petani sudah jatuh tertimpa tandan sawit lagi,” kata Wawan mengibaratkan.<br /><br />Para petani mengharapkan peran pemerintah dan wakil rakyat untuk membantu mencarikan solusi bagi petani di wilayah tersebut.<br /><br />“Perusahaan bukan mensejahterakan masyarakat, tapi malah menyengsarakan. Satu tahun belakangan, petani baru menerima 3 bulan saja hasil dari tanah mereka. Selama tahun 2014, satu tahun petani tekor terus. Belum lagi grading yang sampai delapan persen,” cetus Wawan.<br /><br />Sementara itu, Karolus Hamis, kordinator plasma dan mitra PT MPE Empetai ketika dikonfirmasi melalui pesan singkat tidak memberikan jawaban. (KN)</p>