Petani Plasma Tolak Potongan

oleh
oleh

Berbagai potongan terhadap hasil panen kebun sawit plasma oleh PT Sumatera Makmur Lestri mendapat tentangan dari berbagai pihak. Awalnya, petani menganggap kesepakatan pola Sembilan dibandingkan satu maka tanpa potongan lagi. <p style="text-align: justify;">“Kami merasa dibohongai,” kata salah satu warga Aloysius Uas.<br /><br />Sebagai pemilik delapan hectare lebih kebun plasma, Uas sudah menyerahkan sekitar 43 hektare lebih lahan pada tahun 2004 kepada perusahaan. Setelah kebun plasmanya berbuah namun,hasilnya hanya sekitar Rp1 juta. <br /><br />“Enam juta rupiah lebih habis untuk potongan,” ucap dia.<br /><br />Potongan itu mencakup kredit kebun di bank, pupuk, biaya panen, fee manajemen, dan fee koperasi. Kondisi lebih parah dialami para petani yang memiliki kebun plasma yang kecil dibandingkan Uas.  Uas bersama para petani plasma lainnya meminta perubahan pola 9:1 menjadi 8:2. Itupun tanpa potongan lalgi. <br /><br />“Saya terus berjuang meski banyak mendapat cibiran,” papar dia.<br /><br />Sementara itu, anggota DPRD Sekadau Jeprai menilai tujuan kehadiran perusahaan sawit ke Sekadau untuk mensejahterahkan masyarakat terbukti sudah melenceng. Perjanjian awal dengan petani dapat ditinjau ulang terlebih yang memberatkan petani.<br /><br />Dari pemerintah mengaku PT SML minim sosialisasi selama ini. Secara lisan setuju dengan keinginan petani pola 8:2. Selain mendatangi gedung dewan, petani plasma menguatkan perjuangan dengan memagar beberapa ruas jalan kebun. Dari hasil bertemu dengan DPRD, petani juga menginginkan Pemerintah Sekadau segera menerbitkan peraturan daerah yang berpihak kepada petani.<br /><br />Selain itu, mencegah perusahaan mempermainkan para petani dengan berbagai janji-janji yang pada kenyataannya bohong belaka. <strong>(phs)</strong></p>