Petugas kesehatan di Pelabuhan Tunon Taka Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara mengeluhkan minimnya obat-obatan yang dimiliki saat ini. <p style="text-align: justify;">Salah seorang perawat kesehatan Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, Arman, di Nunukan, Jumat, mengaku seringkali kewalahan saat menangani TKI deportasi yang menderita sakit akibat kurangnya persediaan obat yang dimilikinya.<br /><br />Ia mengatakan, obat-obatan yang diberikan kepada TKI deportasi yang menderita sakit diperoleh dengan menggunakan biaya pribadi dan bukan berasal dari bantuan pemerintah.<br /><br />Padahal, kata dia, persediaan obat-obatan kadangkala tidak sebanding dengan banyaknya TKI deportasi yang mendapatkan perawatan karena sakit setiap kali deportasi.<br /><br />"Kami seringkali kewalahan masalah obat-obatan karena ketersediaan yang dimiliki sangat minim sehingga kadangkala tidak sebanding dengan banyaknya TKI deportasi yang sakit," ujar dia.<br /><br />Oleh karena itu, dia sangat mengharapkan perhatian dan bantuan pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan RI agar dapat memberikan bantuan obat-obatan khususnya untuk penyakit gatal-gatal.<br /><br />Namun Arman menyatakan, memang selama ini masih mendapatkan bantuan obat-obatan dari Kementerian Kesehatan RI tetapi jumlahnya sangat terbatas sementara jumlah pasien setiap kali ada TKI deportasi jumlahnya cukup banyak.<br /><br />"Memang kita biasa dapatkan bantuan obat-obatan dari Kementerian Kesehatan tapi jumlahnya sangat terbatas tidak sebanding dengan jumlah pasien," katanya.<br /><br />Ia juga mengaku dana yang dimiliki Kantor Kesehatan Pelabuhan Nunukan sangat terbatas sehingga tidak mampu menyediakan obat-obatan dalam jumlah yang besar. <strong>(das/ant)</strong></p>


















