Piala Dunia – Semifinal Argentina Vs Belanda Kenangan Final 1978

oleh

Argentina dan Belanda bersiap untuk kembali berhadapan di benua Amerika pada semifinal Piala Dunia 2014 di Sao Paulo, Rabu, untuk pertama kali setelah final Piala Dunia 1978 yang kontroversial di Buenos Aires. <p style="text-align: justify;">Pada Piala Dunia 1978 yang dibayangi pemerintah diktator, tuan rumah Argentina mengalahkan Belanda 3-1 setelah perpanjangan waktu di Stadion Monumental Buenos Aires dan dua gol diantaranya dicetak Mario Kempes.<br /><br />Bagi Tim Oranye, itulah kekalahan kedua beruntun di partai puncak setelah sebelumnya takluk 1-2 kepada Jerman Barat.<br /><br />Sampai saat ini, belum ada satu pun negara asal Eropa yang mampu menjuarai Piala Dunia jika digelar di daratan Amerika.<br /><br />Pada pertandingan final itu, Kempes membuat Argentina unggul lebih dulu, tapi pemain pengganti Dick Nanninga berhasil menyamakan kedudukan.<br /><br />Tuan rumah benar-benar tertolong oleh Dewi Fortuna ketika tendangan keras Rob Rensenbrink hanya membentur tiang gawang pada detik-detik terakhir, sehingga pertandingan dilanjutkan melalui perpanjangan waktu.<br /><br />Kekecewaan mendalam akibat kegagalan memanfaatkan peluang tersebut ternyata berpengaruh terhadap penampilan Belanda pada perpanjangan waktu dan situasi tersebut benar-benar dimanfaatkan tuan rumah.<br /><br />Kempes yang kemudian tampil sebagai pencetak gol terbanyak, membuat Argentina unggul 2-1 dan perlawanan Belanda pun usai setelah Daniel Bertoni mencetak gol ketiga untuk melengkapi kemenangan tuan rumah menjadi 3-1.<br /><br />Hasil tersebut menyisakan kekecewaan dari tim tamu karena sebelum pertandingan, mereka sudah merasa ditekan karena para pemain Argentina menyampaikan keberatan hanya gara-gara gip yang melekat pada pergelangan tangan Rene van de Kerkhof.<br /><br />"Saya yakin mereka sudah rencanakan sebelumnya. Mereka membuat kami harus menunggu dan wasit tidak berbuat apa-apa," kata kapten Ruud Krol seperti yang disampaikannya dalam buku David Winner (Brilliant Orange).<br /><br />Krol juga menuduh bahwa tim Argentina telah menekan FIFA agar memilih wasit asal Italia Sergio Gonella untuk memimpin partai puncak itu.<br /><br />Pemerintahan diktator milier Jorge Videla juga dituding sebagai pihak yang ikut memanipulasi perjalanan tuan rumah sampai ke babak final.<br /><br />Pada pertandingan terakhir di babak penyisihan grup, Argentina harus mengalahkan Peru dengan selisih empat gol untuk memastikan tempat ke babak selanjutnya.<br /><br />Yang terjadi kemudian, kiper Peru kelahiran Argentina Ramon Quiroga "membuka lebar-lebar" gawangnya sehingga kemasukan enam gol sekaligus memuluskan jalan tuan rumah.<br /><br />Penuh Intimidasi Melihat suasana yang penuh intimidasi terhadap tim Belanda, Rensenbrink pun mengaku bahwa ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika tendangannya pada detik-detik terakhir tidak membentur gawang.<br /><br />"Jika gol, kami pasti menang. Kami akan juara di Argentina. Sungguh sayang sekali," katanya.<br /><br />"Para pendukung tim tuan rumah benar-benar gila. Jika kami menang, kami pasti harus melewati perjalanan yang penuh bahaya menuju hotel," katanya.<br /><br />Sementara itu Johan Cruyff memerlukan 30 tahun untuk membantah anggapan bahwa ia menolak pergi ke Argentina karena penolakannya terhadap pemerintahan diktator negara itu.<br /><br />Kepada Radio Catalunya, Cruyff pada 2008 mengungkapkan bahwa ia ingin tetap bersama keluarganya setelah terjadinya upaya penculikan di Barcelona.<br /><br />Namun suanana angker pemerintahan Videla tetap membayangi penyelenggaraan Piala Dunia 1978 tersebut dan bahkan tim Belanda sempat menyampaikan niat untuk boikot.<br /><br />Argentina dinyatakan sebagai tuan rumah Piala Dunia 1978 pada 1966, jauh sebelum Videla berkuasa melalui aksi kudeta militer.<br /><br />"Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya bangga dengan kemenangan itu. Tapi saya tidak menyadarinya, sebagian besar dari kami tidak menyadarinya. Kami hanya bemain sepak bola," kata penyerang Leopoldo Luque beberapa tahun kemudian, setelah terungkapnya fakta bahwa memang ada campur tangan pihak pemerintah diktator tersebut. <strong>(das/ant)</strong></p>