Polisi Belum Temukan Saksi Terkait Pembantaian Orangutan

oleh

Polres Kutai Kartanegara, Polda Kalimantan Timur belum menemukan saksi terkait pembantaian orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus Mario) yang terjadi di Desa Puan Cepak, Kecamatan Muara Kaman, pada 2009 hingga 2010. <p style="text-align: justify;">"Hingga sepekan, penyelidikan terkait dugaan pembantaian orangutan tersebut kami belum menemukan warga yang mengaku melihat atau mengetahui terjadinya pambantaian itu," ungkap Kepala Polres Kutai Kartanegara, Ajun Komisaris Besar I Gusti KB Harryarsana dihubungi dari Samarinda, Selasa.<br /><br />Pada Selasa pekan lalu, Polres Kutai Kartanegara menurunkan tim yang beranggotakan delapan personil dari Satuan Reskrim dan Intelkam ke Muara Kaman untuk melakukan penyelidikan terkait dugaan pembantaian orangutan di Desa Puan Cepak.&lt;br /><br />"Setiap warga yang ditanya, mereka mengaku tidak tahu tentang pembantaian tersebut. Kami juga masih menginventarisir warga maupun orang yang pertama melaporkan masalah ini ke media untuk menelusuri kebenaran pembantaian tersebut," katanya.<br /><br />Bukti-bukti terkait dugaan pembantaian tersebut juga belum ditemukan. Namun, kami masih akan terus melakukan penyelidikan untuk memastikan kemungkinan adanya pembunuhan terhadap orangutan," ungkap I Gusti KB Harryarsana.<br /><br />Kapolres Kutai Kartanegara itu mengatakan, terdapat 19 perusahaan kelapa sawit yang beroperasi di sekitar Kecamatan Muara Kaman atau di wilayah perbatasan Kabupaten Kutai Kartanegara dengan Kutai Barat.<br /><br />Sementara, Manajer Area COP (Centre For Orangutan Protection) Kalimantan, Arfiana Khairunnisa, mendesak polisi mengusut tuntas kasus pembantaian orangutan tersebut.<br /><br />"Kami meminta pemerintah segera mengusut tuntas pembantaian puluhan orangutan di Desa Puan Cepak tersebut. Semestinya, kasus ini sudah diselidiki sejak lama sebab peristiwa itu diperkirakan sudah berlagsung dua hingga tiga tahun silam," kata Arfiana Khairunnisa.<br /><br />Ia menyebut, pembantaian orangutan itu bukan akibat konflik tetapi disebabkan terjadinya konversi kawasan yang selama ini menjadi habitat primata cerdas tersebut menjadi areal perkebunan kelapa sawit.<br /><br />"Orangutan terpaksa makan kelapa sawit karena habitat mereka semakin sempit sehingga sumber makanan tidak ada. Jadi, mereka terpaksa memakan kelapa sawit hingga akhirnya dibantai," ungkap Arfiana Khairunnisa.<br /><br />COP kata dia juga mencari data dan fakta terkait pembantaian orangutan tersebut.<br /><br />"Kami akan membantu polisi untuk mencari data dan bukti-bukti pembantaian itu. Mestinya polisi menelusuri dan mencari bukti lokasi yang diduga areal kuburan orangutan yang dibunuh itu," katanya.<br /><br />Kasus dugaan pembantaian tersebut mulai mencuat berdasarkan pemberitaan salah satu koran harian di Kaltim, pekan lalu.<br /><br />Sebelumnya, Kepala Desa Puan Cepak, Kadir mengatakan, pembunuhan orangutan oleh warga tersebut berdasarkan kepentingan perusahaan sawit yang beroperasi di desa itu.<br /><br />"Saya mendapat informasi kalau warga dibayar per ekor untuk membunuh orangutan itu. Namun, saya tidak tahu berapa nilainya, tetapi saya menduga warga melakukan itu karena kepentingn perusahaan," ungkap Kadir. <strong>(phs/Ant)</strong></p>