Pontianak Jadikan Air Sungai Jawi Untuk PDAM

oleh

Pemerintah Kota Pontianak akan menjadikan air Sungai Jawi sebagai alternatif bahan baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Khatulistiwa Pontianak, ketika air Sungai Kapuas dan Penepat terinstrusi air asin saat musim kemarau. <p style="text-align: justify;">"Saya minta masyarakat tidak salah persepsi terkait rencana Pemkot Pontianak yang akan menjadikan air Sungai Jawi sebagai bahan baku alternatif, karena hanya akan digunakan ketika air di Sungai Kapuas dan Penepat sudah terintrusi air asin saja," kata Wali Kota Pontianak Sutarmidji, di Pontianak, Senin.<br /><br />Ia menjelaskan, air Sungai Jawi jika diolah diperkirakan mampu memproduksi sekitar 100 liter per detik selama tujuh hingga 10 hari kedepannya.<br /><br />Menurut Sutarmidji, pihaknya sedang mengkaji untuk dijadikannya air Sungai Jawi sebagai bahan baku PDAM. Panjang Sungai Jawi dari wilayah Kota Pontianak hingga wilayah Kabupaten Kubu Raya sekitar 10 hingga 11 kilometer, lebar sekitar 15-18 meter dan kedalaman dua meter.<br /><br />"Maka kedepannya air Sungai Jawi diharapkan mampu menampung ketersediaan air tawar yang cukup banyak. Kalau misalnya terjadi kemarau air Sungai Kapuas asin, maka pintu air yang ada di beberapa titik dari Sungai Jawi kita tutup sehingga airnya bisa dimanfaatkan untuk bahan baku PDAM," ujarnya.<br /><br />Seiring penyediaan air baku PDAM dari Sungai Jawi tetap berjalan, kawasan sepanjang sungai tersebut sekaligus akan menjadi pusat wisata air. "Konsepnya sebagai air baku PDAM sehingga kebersihan Sungai Jawi akan selalu terjaga sehingga akan menjadi pusat wisata kuliner malam," katanya.<br /><br />Menurut Sutarmidji, rencana Pemkot mengembangkan kawasan Sungai Jawi ini perlu dukungan dari semua pihak, sehingga ia berharap tidak ada yang apriori terhadap pembangunan itu. "Biarkan dulu ahli dari Oasen, Belanda bekerja, toh kita tidak juga bayar mereka karena itu sifatnya bantuan dari mereka. Kalau mereka nyatakan layak, maka akan kami buat studi kelayakan dan detail engineering design (DED) untuk diusulkan ke Kementerian Pekerjaan Umum," jelasnya.<br /><br />Dengan terjaganya saluran Sungai Jawi, maka kedepan saluran-saluran pembuangan dari rumah tangga tidak boleh lagi langsung dibuang ke Sungai Jawi. Pemkot melalui bantuan dari Kementerian PU akan membangun saluran-saluran khusus untuk pengolahan air limbah rumah tangga, katanya.<br /><br />"Di Bali sudah ada seperti itu, kami sudah ditawarkan, tetapi harus menyiapkan lahan sekitar satu hektare, dan lahan itu juga sudah ada, sehingga air Sungai Jawi sebagai bahan baku akan terjaga kebersihannya," kata Sutarmidji.<br /><br />Dalam kesempatan itu, Sutarmidji menambahkan, pihaknya juga berencana membelokkan Sungai Jawi ke arah Punggur, karena lahan disana masih luas dan struktur tanahnya bukan gambut sehingga resapan air tanahnya tidak begitu cepat.<br /><br />"Seandainya diwilayah itu lahan yang bisa dibebaskan seluas 50 hektare untuk dibangun waduk atau danau, maka itu menjadi alternatif sebagai persediaan air baku. Sementara untuk pengalirannya tidak perlu lagi menggunakan pipa karena sudah ada parit yang secara alami bisa untuk mengalirkan air baku ke tempat pengolahan air," ujarnya. (das/ant)</p>