Produksi Padi Kaltim Diperkirakan Turun 6.833 Ton

oleh

Produksi padi di Provinsi Kalimantan Timur tahun 2014 diperkirakan mengalami penurunan sebanyak 6.833 ton gabah kering giling atau turun 1,55 persen, dari 439.439 ton pada 2013, menjadi 432.606 ton pada 2014. <p style="text-align: justify;">"Penurunan produksi padi terjadi karena adanya penurunan luas panen mencapai 1.525 hektare dan penurunan produktivitas mencapai 0,03 kuintal per hektare," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur (Kaltim) Aden Gultom di Samarinda, Jumat.<br /><br />Dia mengatakan perkembangan produksi padi di Kaltim dari tahun ke tahun selalu berfluktuasi, baik dilihat dari sisi luas areal panen, maupun produktivitas dan produksinya.<br /><br />Ia menyontohkan pada 2012 luas areal panen 101.960 ha, tahun 2013 naik menjadi seluas 102.912 ha, tetapi pada 2014 turun lagi menjadi 101.383 ha berdasarkan angka ramalan sementara.<br /><br />Dari sisi produktivitas, pada 2012 mampu menghasilkan 41,65 kuintal per ha, pada 2013 naik menjadi 42,70 kuintal per ha, dan pada 2014 diperkirakan turun tipis menjadi 42,67 kuintal per ha.<br /><br />Sementara untuk produksi padi juga demikian, yakni pada 2012 menghasilkan 424.670 ton GKG, pada 2013 naik menjadi 439.439 ton GKG, dan pada 2014 diprediksi sedikit menurun hingga menjadi 432.606 ton GKG.<br /><br />Perkiraan penurunan produksi padi terbesar terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara, yakni akibat terjadinya alih fungsi lahan baik untuk pemukiman maupun kegiatan lain non pertanian tanaman pangan.<br /><br />Pola panen padi sepanjang 2014 masih sama dengan pola panen pada tahun sebelumnya, yakni puncak panen terjadi pada subround I Januari-April, kemudian pada subround II Mei-Agustus luas penen padi mengalami penurunan.<br /><br />Selanjutnya mengalami peningkatan lagi pada subround III September-Desember. Pola ini juga masih sama dengan tahun 2012 lalu.<br /><br />"Data yang kami sajikan ini merupakan angka ramalan sementara, sehingga masih memungkinkan mengalami perbaikan. Tetapi berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, revisi angka biasanya tidak terlalu banyak," ujar Gultom. (das/ant)</p>