Produksi Rotan Capai 500 Ribu Ton/Tahun

oleh

Produksi tanaman rotan kalangan masyarakat di sejumlah kecamatan di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, mencapai 400.000-500 ribu ton per tahun. <p style="text-align: justify;">"Hasil perkebunan rotan masyarakat ini sebagian dijual ke luar daerah dan dijadikan bahan kerajinan anyaman rotan oleh masyarakat setempat," kata Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pengelolaan Pasar Barito Utara Roosmadianor di Muara Teweh, Jumat.<br /><br />Menurut Roosmadinor, rotan yang merupakan salah satu komoditi unggulan salah satu kabupaten pedalaman Sungai Barito ini merupakan tanaman yang banyak diusahakan masyarakat Kecamatan Gunung Purei, Teweh Timur, Montallat, dan Lahei.<br /><br />Saat ini komoditi tersebut dikembangkan melalui 72 kelompok tani atau perajin dengan 224 tenaga kerja di antaranya pembuatan anyaman rotan seperti tikar/lampit, rambat, topi, lanjung, pakalu, tas, baki, hiasan dinding, dan lain-lain.<br /><br />"Namun usaha ini masih mengalami kendala di antaranya pemasaran keluar daerah yang tergantung pesanan dan harga masih rendah," katanya.<br /><br />Roosmadianor mengatakan, selain itu minimnya pengetahuan warga terhadap pengelolaan atau kerajinan tangan dengan kata lainnya kekurangan sumber daya manusia (SDM) membuat rotan ini kebanyakan di jual sebagai bahan mentah keluar daerah tanpa dikerjakan sendiri untuk dijadikan bahan siap pakai.<br /><br />Para petani rotan hingga kini masih belum menargetkan produktivitas rutin, karena belum ada pembudidayaan tanaman di Kabupaten Barut.<br /><br />Ketika ditanya sejauh mana peran pemerintah daerah khususnya dinas setempat dalam pembudidayaan rotan sebagai pilihan kedua masyarakat setelah bertani karet, katanya, selama ini pemerintah daerah sudah mengadakan pembinaan terhadap petani rotan.<br /><br />"Sebagai sebuah prospek mata pencaharian sampingan dan mungkin juga merupakan unggulan rotan mempunyai prosfek yang cukup menjanjikan terlebih beberapa waktu lalu harga rotan berkisar antara Rp2.300-Rp2.500/kg," ujarnya.<br /><br />Dia mengatakan, akses jalan yang semakin membaik antar desa dan kecamatan membuat harga rotan cepat normal karena persaingan antar pembeli bukan hanya di tingkat lokal namun juga non lokal.<br /><br />Petani rotan di Kecamatan Lahei, Maslan (50) mengharapkan ada campur tangan pemerintah daerah untuk membantu mereka dalam hal pemasaran karena selama ini para petani sering dikecewakan oleh permainan para tengkulak.<strong> (das/ant)</strong></p>