manat penderitaan rakyat (Ampera), yang mendorong perjuangan gerakan Angkatan 66 atau yang ketika itu dikenal dengan sebutan "Tri Tura" (tiga tuntutan rakyat), secara esensial, belum terpenuhi tuntas. <p style="text-align: justify;">Hal itu dikemukakan mantan Rektor Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, Prof HM Kustan Basri dan Ketua Eksponen Angkatan 66 H Alwi AS, sebelum kegiatan napak tilas gugurnya Pahlawan Ampera Hasanuddin HM, Sabtu.<br /><br />Tri Tura tersebut berisikan tuntutan, turunkan harga sandang pangan, bubarkan kabinet 100 menteri dan bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) bersama antek-anteknya, serta melarang ajaran komunis di Indonesia yang berdasarkan Pancasila.<br /><br />Menurut Kustan, yang mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu, secara de facto atau formal, Tri Tura sudah dilaksanakan Pemegang Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) Letjen TNI Soeharto, yang kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia.<br /><br />"Karena pemegang Supersemar pada 46 tahun lalu sudah membubarkan kabinet 100 menteri dan PKI bersama antek-anteknya, serta mulai melakukan perbaikan ekonomi rakyat," ungkapnya.<br /><br />Namun secara hakiki atau esensial, perjuangan untuk memenuhi Ampera atau Tri Tura, masih harus berlanjut, lanjut almunus Universitas Indonesia (UI) Jakarta tersebut.<br /><br />Sebab, lanjutnya, esensi tuntutan turunkan harga sandang pangan adalah memintah pemerintah menstabilkan dan memperbaiki ekonomi rakyat, yang ketika sebelum gerangkan Angkatan 66, kondisinya murat-marit.<br /><br />Begitu pula tuntutan bubarkan kabinet 100 menteri, esensinya ialah menginginkan sistem pemerintahan Indonesia yang bersih dan berwibawa atau istilah belakangan disebut Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).<br /><br />Sedangkan esensi tuntutan bubarkan PKI bersama antek-anteknya, ialah menuntut pemerintah agar mendorong sistem perpolitikan yang sehat, tidak seperti masa keberadaan PKI.<br /><br />"Karena pada masa bercokolnya PKI terjadi sistem politik ‘adu domba’ sehingga situasi dan kondisi perpolitikan tidak stabil, bahkan terancamnya dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yaitu Pancasila," demikian Kustan.<br /><br />Pendapat senada dari Ketua Eksponen Angkatan 66 H Alwi AS, yang ikut demontrasi bersama massa lain ke Konsulat Republik Rakyat Tjina (RRT/RRC), karena pemerintahan negara "tirai bambu" ketika itu mendukung gerakan PKI.<br /><br />Sebelum napak tilas gugurnya Pahlawan Ampera Hasanuddin HM, diadakan apel di halam bekas kampus Unlam Banjarmasin, yang kini menjadi Bank Mandiri Cabang Banjarmasin, kemudian dilanjutkan zaiarah ke makam almarhum.<br /><br />Pahlawan Ampera Hasanuddin HM, mahasiswa Fakultas Ekonomi Unlam yang gugur sehabis pulang demonstrasi dari Konsulat RRT, kena tembakan anggota kesatuan Jon K dari Kodam Diponegoro Jawa Tengah, yang di BKO-kan di Kalsel atau Banjarmasin.<br /><br />Hasanuddin HM sebagai Pahlawan Ampera pertama di Indonesia yang gugur 10 Februari 1966, kemudian beberapa hari berselang menyusul berita gugurnya Arief Rahman Hakim, mahasiswa Fakultas Kedokteran UI, juga mendapat gelar Pahlawan Ampera. <strong>(phs/Ant)</strong></p>















