Prosesi Jumat Agung Larantuka NTT

oleh

Ini adalah tahun kedua, dimana patung Mater Dolo Rosa atau Bunda Berduka yang asli tidak lagi diarak keliling kota kecil Renha Rosari-Larantuka di Kabupaten Flores Timur. <p style="text-align: justify;">Lazimnya setiap tahun saat menjelang Pesta Paskah, umat Kristiani khususnya umat Katolik di seluruh penjuru dunia, mengimani perjalanan Salib dalam Jalan Sengsara, dan wafat Isa Almasih, Yesus Juru Selamat Dunia. <br /><br />Patung Bunda Maria yang aseli ditemukan sekitar 500 tahun silam itu tidak lagi kokoh untuk diarak selama prosesi Jumad Agung.<br /><br />Pada sejumlah pertemuan tingkat Keuskupan Larantuka sejak tahun 2009, mulai dibahas, apakah dimungkinkan segera dibuatkan pengganti patung atau arca yang aseli dengan duplikat, atau pengganti, karena saat prosesi atau arak arakan keliling kota Larantuka, patung Tuan Ma, harus ditandu di atas tumba  oleh kaum conferia.<br /><br />Berbagai pertimbangan keselamatan patung yang aseli yang mulai rapuh, mendorong pihak Keuskupan untuk urung rembuk dengan keturunan raja raja Larantuka, alhasil, kesepakatan, segera  membuat duplikat.<br /><br />Pihak Keuskupan dan kalangan istana raja Larantuka kemudian memutuskan mengundang seorang ahli patung di tanah nagi saja. Emil Diaz yang kini bermukim di kota Lewoleba Kabupaten Lembata, menjalani masa semedi selama berbulan bulan untuk mampu menghadirkan gambaran patung duplikat  yang seharusnya "sama " dengan yang aseli.<br /><br />Duplikat patung Mater Dolorosa-Bunda Berduka Citapun selesai. Tahun lalu, umat peziaran dari berbagai penjuru tanah air dan sejumlah wiatawan manca negara serta tamu negara sahabat, meluangkan waktu untuk sejenak berada di kota Kecil Larantuka, dalam prosesi Jumad Agung, tidak lagi menemukan patung Mater Dolorosa yang aseli, seperti yang dituturkan Bernard Tukan, tokoh gereja Katolik Larantuka, kepada KBRN.<br /><br />Prosesi Jumad Agung, mengenang sengsara dan wafat Tuhan Yesus diimani peziarah sebagai Lengkap tersimpan di kota Larantuka.<br /><br />Prosesi diawali dengan mengantar Tuan Menino ( kanak kanak Yesus dari kapel induk di Pante Rewido  di selat Gonzalvus yang ganas antara pulau Adonara dan daratan Flores bagian Timur,  menuju Kapela Tuan Ma di pante Kuce Larantuka. <br /><br />Prosesi ini dikenal dengan Prosesi Bahari, karena mengantar Kanak Kanak Yesus menuju tempat Bunda harus melalui laut.<br />Dan pada Jumad pagi itulah, kekhusukan umat yang berkunjung ke Larantuka mulai padat. Dimulai dari iring iringan kapal nelayan, perahu motor, sampan kecil, tua muda, laki, perempuan, ramai ramai mengayuh dayung menuju pantai yang dituju.<br />Seharian itu pula berlangsung sejumah ritual adat dan gereja. <br /><br />Jalan Salib Kisah Sengsara Tuhan, dilakukan secara hidup, dinamakan Tablo. Akan ada upacara cium Tuan Ma dan Tuan Ana. Di lain tempat di Kaple Tuan  Ma dan Tuan Ana, berlangsung sejumlah adat pemandian Tuan, dalam bahasa Nagi atau Tana Larantuka disebut Muda Tuan. <br /><br />Tuan dan Bunda didandani, untuk nantinya diarak dalam prosesi Jumad Agung.<br />Karena ini adalah paduan antara Tradisi yang mengakar dan kegiatan Gereja, maka ritual sembah secara tradisi adat itulah mendorong semua insan yang mengimani sejarah itu, untuk berserah secara total. Mereka yang datang dari luar daerah akan dilayani oleh kelompok Mardomu pelayan.<br /><br />Ada pelayan jalan yang bisa mengurus sendiri tamu yang datang, tapi ada pelayan khusus, disebut sebagai Mardomu Tuan. Mereka hanya melayani peziarah yang datang bersujud di rumah atau Kapel Tuan Ma dan Tuan Ana.<br /><br />Remaja Masjid, Hindu dan kelompok muda keyakinan lain, memiliki peran yang luar biasa. Bisa diakui kekerabatan dalam keragaman kepercayaan yang mulai dipupuk kini, awal mula kiahnya berawal dari Larantuka. Dimana penjaga keamanan gereja selama Pekan Suci sampai minggu Paskah, dulunya, menjadi tanggung jawab anak anak muda muslim.<br /><br />Prosesi Bahari Larantuka pada Hari Jumad dan prosesi Jumad Agung (malam harinya-red)  itu pula kemudian mengundang kekaguman kalangan media lokal, nasional dan international, tamu negara sahabat serta petinggi Negara kita dari berbagai kalangan untuk datang setiap tahun,  hadir, mengikuti prosesi serta mengabadikan moment Budaya dan Religi yang sangat terpelihara kuat di kota kecil Renha Rosari  Larantuka ini.<br /><br />Jika Anda ke Larantuka anda bisa menyaksikan, ke unikan dan kekhususan kota Larantuka,  sebuah kota yang lahir dari sebuah peradaban tradisional masyarakat Lamaholot dan pergeseran budaya warisan bangsa Portugis 5 abad silam. <strong>(das/rri)</strong></p>