Puluhan warga negara Afghanistan yang berada di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pontianak di Jalan Adisucipto Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, berunjuk rasa. <p style="text-align: justify;">"Kami menuntut agar proses suaka ke Australia segera dipercepat. Kami juga meminta meninggalnya rekan kami akibat dianiaya oleh oknum sipir dan warga negara asing lainnya segera dipulangkan ke daerah asalnya," kata Husein Ali Husein (19) di Sungai Raya, Jumat.<br /><br />Dikatakan Husein Ali, beberapa waktu lalu rekan mereka yang kabur dan berhasil ditemukan kembali sekarang berada di rumah sakit dan kondisinya kritis.<br /><br />Bahkan, Husein dan rekan-rekannya yang lain juga sangat menyesali karena di antara teman mereka yang ditangkap dan dianiaya terdapat anak di bawah umur.<br /><br />Hal itu yang membuat dia dan puluhan orang Afghanistan lainnya merasa tidak terima dan melakukan aksi demo tersebut.<br /><br />Sementara itu, WN Afghanistan lainnya, Husein Ali Hadari (44) mengatakan bahwa teman mereka yang melarikan diri sudah ada yang meninggal karena dianiaya di salah satu ruangan.<br /><br />Saat kejadian, mereka sendiri hanya bisa mendengarkan raungan dari rekan mereka yang ditangkap setelah melarikan diri.<br /><br />"Saya hanya mendengar suara mereka kesakitan, namun tidak bisa melihatnya secara langsung karena berada di ruangan lain. Mereka merasa stress karena tidak ada kepastian mengenai suaka yang mereka lakukan sehingga kemarin melarikan diri," tuturnya.<br /><br />Menurutnya mereka juga tidak dapat menghubungi keluarga mereka yang berada di Afghanistan karena tidak diberikan sarana berkomunikasi dengan keluarga.<br /><br />Di dalam Rudenim itu sendiri terdapat puluhan warga negara asing dengan waktu penempatan yang bervariasi.<br /><br />"Ada yang baru dua bulan, tiga bulan, satu tahun, bahkan sudah ada yang dua tahun berada di sini. Kami ingin proses dapat dipercepat, jangan kami diperlakukan seperti ini. Makan diberikan tiga kali sehari, namun kami tidak betah juga jika lama-lama berada di sini dan kami ingin cepat bersuaka ke Australia," tuturnya.<br /><br />Husein Ali Husein menyatakan petugas Rudenim di Pontianak suka memukul warga asing seperti mereka, sedangkan di daerah lainnya tidak ada yang melakukan kekerasan terhadap warga asing.<br /><br />"Imigrasi di sini suka pusing-pusing (melakukan kekerasan) kepada kami sehingga tidak betah berada di sini dan merasa takut setiap waktu. Kami ingin diperlakukan seperti warga asing lainnya, jangan ada kekerasan, kemarin saja contohnya, rekan kami ada yang meninggal karena dianiya juga oleh mereka," katanya.<br /><br />Dihubungi terpisah, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Kanwil Kemenkumham Kalbar, Juliasman Purba, mengatakan bahwa warga asing asal Afghanistan tersebut mengajukan untuk bertemu dengan IOM dari Jakarta, sedangkan pihaknya tidak dapat langsung mendatangkan petugas tersebut karena masih dalam proses.<br /><br />Namun, para warga asing tersebut sudah terlebih dahulu melakukan aksi. Kejadian tersebut tidak semata-mata terjadi karena beberapa hari sebelumnya korban yang meninggal pernah melakukan ancaman kepada petugas sipir yang sedang bertugas dengan berkata, "Kalian yang 30 orang sedangkan kami 70 orang." "Kemudian dijawab hanya bercanda ketika petugas kami menanyakan kembali, terus mereka minta datangkan IOM pusat, namun karena ada beberapa kendala sehingga petugas terlambat datang, tapi mereka sudah terlebih dahulu melakukan aksinya," kata Juliasman.<br /><br />Juliasman juga menjelaskan bahwa pihaknya berusaha memberikan pelayanan yang semaksimal mungkin, termasuk berupaya untuk mendatangkan petugas tersebut.<br /><br />"Emosi mereka yang cukup tinggi, mereka berada di Rudenim rata-rata enam bulan, dan statusnya masih pencari suaka," katanya.<br /><br />Menurut dia, ada di antara mereka yang sengaja membenturkan kepala. Jika ada yang bocor kepala, faktanya di balik dengan berkata bahwa dirinya dianiaya petugas.<br /><br />"Kami lagi yang akan disalahkan. Jadi, kami tidak pernah melakukan pemukulan ketika mereka masih berada di dalam," katanya menegaskan.<br /><br />Menyinggung tiga warga Afghanistan yang diduga dianiaya, dia mengatakan saat ini mereka sedang berada di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Adapun biayanya pihaknya akan menanggung.<br /><br />"Kami tidak akan menutupi jika ada penganiayaan. Mereka saat ini sedang berada di rumah sakit karena kasus beberapa waktu lalu. Siapa saja yang melanggar hukum akan diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku," tuturnya.<strong> (phs/Ant)</strong></p>


















