Puskepi: Turunnya Harga BBM Harus Bermanfaat

oleh

Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria menyatakan, turunnya harga BBM harus bermanfaat bagi semua rakyat, dan bukan hanya bagi segelintir pihak. <p style="text-align: justify;">"Harusnya ketika harga jual BBM diturunkan, maka harga kebutuhan pokok dan tarif angkutan juga ikut turun, tetapi kenyataannya tidak serta merta dibarengi dengan turunnya harga komoditas lain termasuk tarif angkutan, sehingga tidak berdampak signifikan bagi rakyat," kata Sofyano Zakaria saat dihubungi di Jakarta, Senin.<br /><br />Ia menjelaskan, turunnya harga jual BBM tidak serta merta melahirkan deflasi, karena deflasi juga bergantung erat dengan harga harga komoditas lain seperti beras, cabe, bawang, gula, kopi, minyak goreng dan lain-lain, yang jika ditotal komoditas tersebut menyumbang nilai inflasi dan atau deflasi cukup besar.<br /><br />"Sehingga pemerintah harusnya bersikap cerdas, ketika harga minyak dunia turun seperti saat ini, maka harusnya disikapi dengan kebijakan membeli minyak dunia semaksimal mungkin dan menjadikan sebagai stok untuk menyangga ketahanan energi nasional," ungkapnya.<br /><br />Karena, menurut dia, tidak ada seorangpun termasuk lembaga yang bisa menjamin bahwa harga minyak dunia tidak akan naik lagi setidaknya ke posisi tengah atau dikisaran 40 dolar AS – 50 dolar AS/barrel.<br /><br />"Dan jika itu terjadi, maka bisa dibayangkan bagaimana reaksi rakyat negeri ini jika pemerintah terpaksa harus membuat kebijakan mengkoreksi naik harga jual BBM. Pemerintah dan DPR RI pasti akan menjadi sasaran amuk kemarahan dan rawan dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mencari keuntungan," kata Sofyano.<br /><br />Dia berharap, jika pemerintah membuat kebijakan menurunkan harga jual BBM, maka harus bermanfaat langsung dan nyata bagi masyarakat banyak, dan jangan hanya bermanfaat bagi segelintir pihak saja.<br /><br />Dalam kesempatan itu, Direktur Puskepi menambahkan, jika dalam kurun tiga bulan terakhir dapat dibuktikan bahwa pemerintah mendapat keuntungan dari harga jual BBM, maka bisa dimanfaatkan untuk dana cadangan untuk menjamin stabilitas harga BBM.<br /><br />"Sehingga bisa dimanfaatkan ketika harga minyak dunia naik kembali, sehingga harga jual BBM tidak akan ikut naik karena diantisipasi dengan tabungan yang dihasilkan dari keuntungan tersebut," ujarnya.<br /><br />Selain itu, dana keuntungan tersebut juga bisa pergunakan bagi ketahanan energi nasional dan ketahanan energi daerah, katanya.<br /><br />Karena untuk memperkuat ketahanan energi nasional terkait BBM, dibutuhkan biaya yang besar, dengan investasi sekitar 3 miliar dolar AS, untuk pembangunan tangki timbun BBM dengan kapasitas sekitar 5,5 juta kiloliter atau selama 30 hari.<br /><br />"Ketahanan energi BBM bagi bangsa ini bisa terwujud paling tidak jika negeri ini memiliki storage tank untuk menimbun BBM yang cukup dan tersebar diseluruh wilayah NKRI. Dengan adanya infrastruktur BBM tersebut maka ketahanan energi di daerah dapat dijamin aman, hal itulah yang harus dikejar dan dicapai oleh pemerintah," katanya.<br /><br />Untuk itulah sewajarnya jika pemerintah, DPR RI dan seluruh elemen bangsa bersepakat membuat solusi yang tidak memberatkan rakyat, yakni dengan cara menghimpun dana cadangan stabilitasi dan ketahanan energi, dengan tidak perlu menurunkan harga jual BBM.<br /><br />"Jika harus diturunkan maka penurunannya tidak harus mengacu patuh kepada angka turunnya harga minyak dunia yang telah terjadi. Pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM bisa merevisi peraturan yang ada yang terkait dengan harga dan formula penetapan harga BBM yang bisa mengakomodir adanya dana stabilitasi dan pembangunan infrastruktur bagi ketahanan energi nasional dan daerah," katanya.<br /><br />Namun semua itu harus dilakukan setransparan mungkin dan disosialisasikan secara konfrehensif kepada publik, kata Sofyano. (das/ant)</p>