Umat Katholik di seluruh dunia, sudah mulai memasuki masa Prapaskah yang ditandai dengan melakukan puasa atau pantang. Masa berpuasa ini juga diawali dengan perayaan Rabu Abu, yakni satu perayaan sakramental dengan memberikan tanda salib di dahi umat dengan menggunakan abu dari pembakaran daun Palma tahun lalu, yang sudah diberkati. <p style="text-align: justify;">“Di samping dipakai sebagai symbol pertobatan dan pembaharuan diri, abu juga menjadi tanda yang mengingatkan kita akan kerahiman Allah akan mereka yang secara tulus berbalik kepadaNya,” ungkap Uskup Sintang Mgr.Agustinus Agus, Pr saat dihubungi kalimantan.news.com, Rabu (22/02/2012).<br /><br />Lanjutnya, kerahiman Ilahi merupakan unsur terpenting dalam masa puasa ini, dan bunda gereja meminta agar umat Katholik berusaha menemukan dan merasakan kerahiman Allah di masa puasa ini lewat refleksi, doa, tobat dan amal.<br /><br />Perayaan Rabu Abu di Sintang sendiri, ditandai dengan misa Rabu Abu yang berlangsung di Katedral Kristus Raja serta seluruh Paroki di wilayah keuskupan Sintang. Khusus di Katedral Kristus Raja, misa dilakukan dua kali yakni pukul 06.00 wib dan 17.00 wib.<br /><br />Dalam misa pukul 17.00 wib, yang dipimpin Romo Leonardus Miau, Pr dan diikuti ratusan umat katholik Paroki Kristus Raja. Meskipun diwarnai hujan, namun tidak menyurutkan umat untuk hadir dalam misa tersebut.<br /><br />Dalam homilinya, Romo Leonardus Miau, Pr senada dengan Uskup mengungkapkan, Rabu Abu yang ditandai dengan lambang salib di dahi merupakan simbol dari pertobatan yang harus dilakukan oleh umat kristiani.</p> <p style="text-align: justify;"><img src="../../data/foto/imagebank/20120222142938_CC6C061.jpg" alt="" width="600" height="450" /></p> <p style="text-align: justify;"><em><strong>Umat Katholik tengah menerima tanda salib di dahi dalam misa Rabu Abu di katedral Kristus Raja Sintang<br /></strong></em></p> <p style="text-align: justify;">Selama masa prapaskah ini, lanjutnya ada tiga hal yang harus dilakukan oleh umat katholik yakni bersedekah. <br /><br />“Bersedekah bukan sekedar mengeluarkan materi untuk mereka yang tak mampu, namun juga dapat dilakukan dengan bentuk fisik. Wujud nyatanya oleh gereja dilakukan dalam bentuk APP,” ungkapnya.<br /><br />APP bukan hanya sebagai wujud interaksi sosial antar sesama, akan tetapi yang terpenting adalah sebagai bagian dari matiraga/lakutapa dan pertobatan, tegas Rm.Leonardus Miau.<br /><br />“Konkritnya adalah, selama berpuasa atau berpantang ini kita mengurangi apa yang menjadi kebiasaan sebelumnya dan menyisihkan untuk sesama. Misalnya kita yang sehari bisa menghabiskan uang 50 ribu, maka selama prapaskah ini diwajibkan dapat menyisihkan bagi sesama sesuai kemampuan yang merupakan buah dari pengorbanan kita,” katanya memberikan contoh.<br /><br />Terkait dengan pantang dan berpuasa, umat Katholik di ingatkan untuk melakukannya pada Rabu dan Jumat Agung.<br /><br />“Itu utamanya, dan selebihnya hingga menyambut paskah adalah dengan melakukan pantang, seperti tidak makan daging dll,” ujarnya.<br /><br />Secara umum, umat Katholik di ingatkan, dengan Rabu Abu umat Katholik memulai masa Puasa, masa untuk bertobat, masa untuk memperbaharui diri, untuk refleksi dan puasa sebagai persiapan untuk menerima Yesus yang bangkit pada hari Paska yang membawa penebusan dan penyelamatan bagi manusia berdosa.<strong> (*)</strong></p>















