Kehidupan masyarakat perbatasan yang jarang muncul kepermukaan, membuat wajah beranda depan Negara ini terbelakang, ibaratkan didalam gua, teriakan masyarakat tidak terdengar keluar sana. <p style="text-align: justify;">Padahal hingga detik ini setelah Indonesia Merdeka kehidupan masyarakat masih memerlukan perhatian serius dari Pemerintah. Hanya saja terkadang kepentingan masyarakat selalu saja dikalahkan oleh kepentingan Politik, Perorangan atau sekelompok orang yang sengaja menjual isu perbatasan diluar sana, dan lagi-lagi masyarakat menjadi korbannya. <br /><br />Tidak hanya kondisi infrastruktur yang menjadi dilema ditengah masyarakat, namun kondisi pertahananpun selalu menjadi perbincangan, perdebatan hingga mencuatnya batas-batas wilayah Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI) dengan Negara Tetangga Malaysia, yang tidak pernah habis-habisnya dipersoalkan. Dari mulai kesejahteraan hingga pendidikan wilayah perbatasan selalu dihantui oleh kemajuan Negara Tetangga, harga diri bangsa jadi taruhan ketika banyaknya anak-anak perbatasan mengenyam kursi sekolah di Negara Malaysia. <br /><br />Ibarat anak ayam kehilangan induknya, masyarakat dengan terpaksa mencari cahaya kehidupan menyongsong sinar Mentari di Negeri orang. meskipun ada semboyan bahwa NKRI harga mati namun bagi masyarakat perbatasan yang kurang mendapat perhatian bahwa kesejahteraanlah yang merupakan harga mati. “ Dimana pemimpinku, bagaimana nasibku sebagai warga Negara, dan dimana kemerdekaan itu”,? pertanyaan inilah yang bisa menyimpulkan bahwa masyarakat perbatasan masih jauh tertinggal, dan wajib diperhatikan, padahal bukankah kekuatan bangsa ini ada pada masyarakat, dan kemajuan bangsa ini ada pada kesejahteraan masyarakat? <br /><br />Namun inilah kenyataanya, Pemerintah lebih mengutamakan pembangunan di Ibu Kota, inci demi inci sorotan mata masyarakat memacarkan dan menaruh harapan besar kepada para pemimpin, yang selalu menggoyangkan kaki dikursi empuk. Uang jalan berdalih meninjau masyarakat pedalaman menjadi penghasilan tambahan para pejabat. Sementara rakyat terus dibiarkan terlantar. Sungguh tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan masyarakat yang terpurung diperbatasan jauh lebih terhormat dari kemewahan yang diperoleh diatas penderitaan rakyat. <br /><br />Dari bisikan hingga teriakan masyarakat wilayah perbatasan yang minta diperhatikan, seakan membuat para pemimpin terpaksa akan bangun dari mimpi-mimpi, dan tak jarang teriakan masyarakat dijadikan lahan politik dengan mengobar janji-janji. Namun berangkat dari penderitaan yang dipikul beberapa Tahun lalu membuat masyarakat menyuarakan bisikan nuraninya. Mau tidak mau, suka tidak suka masyarakat akhirnya menagih janji-janji yang terlanjur meninggalkan luka penderitaan pada masyarakat. <br /><br />Terus mempertahankan wilayah kedaulatan dan terancam kehilangan rasa patriotisme dari masyarakat perbatasan, akhirnya bisa membuka mata para pemimpin Bangsa ini, menatap sorotan mata masyarakat yang ternyata menyimpan banyak persoalan, sebab teriakan masyarakat yang seakan-akan berada di dalam “gua” ternyata mampu menggoyangkan langkah kaki dan tangan para pemimpin melaksanakan kewajiban bagi kehidupan masyarakat perbatasan, satu persatu, tahap demi tahap persoalan wilayah perbatasan menjadi catatan serius Bangsa ini, tidak heran jika program Pemerintah kini menjalar hingga kepelosok perbatasan. <br /><br />“Bukan janji, tapi bukti” itulah yang selama ini dinanti-nantikan masyarakat, kepedulian dan keseriusan Pemerintah sedikit demi sedikit membangkitkan gairah kehidupan berbangsa dan bertanah air di wilayah perbatasan. Biarlah penderitaan masyarakat terkubur bersama hiasan lubang pada jalan dan putusnya jembatan beberapa Tahun lalu, terobati seperti infrastruktur yang saat ini terbentang menjadi oksigen bagi kelegaan nafas kehidupan masyarakat perbatasan, bahwa ternyata mereka bukanlah anak ayam yang harus mencari induknya, tetapi saat ini Induk ayam sedang mencari anak-anaknya yiatu masyarakat perbatasan. <br /><br />Keseriusan Pemerintah membangun perbatasan merupakan modal awal bangkitnya kehidupan masyarakat perbatasan yang selama ini telah terkubur bersama sejuta persoalan yang hanya terpancar dari sorot mata, dan diteteskan oleh air mata yang jernih yang menandakan bahwa di perbatasan sana masih ada kehidupan, masih ada sejuta teriakan menggemah didalam “Gua” yang seakan takkan pernah habisnya mengetarkan debaran jantung bangsa ini. Akankan teriakan sejuta persoalan dari “Gua” itu berubah menjadi nayanyian “kemerdekaan” Bangsa ini diperbatasan dengan diiringi lajunya pembangunan ? <strong>(phs)</strong></p>


















