Ratusan Hektar Karet Di Barut Terendam Banjir

oleh

Ratusan hektar kebun karet milik warga di sejumlah desa di pinggiran Sungai Barito Kabupaten Barito Utara (Barut) Kalimantan Tengah terendam banjir. <p style="text-align: justify;">"Akibat kebun karet terendam banjir, maka usaha masyarakat di tempat kami terhenti total karena komoditi itu merupakan mata pencaharian utama," kata seorang warga Kelurahan Jambu Kecamatan Teweh Baru, Irwansyah di Muara Teweh, Minggu.<br /><br />Banjir yang melanda kabupaten di pedalaman Kalteng yang sudah memasuki hari keempat dengan air masih belum surut dengan ketinggian banjir bervariasi antara 1 – 3 meter. Sejumlah desa kota Muara Teweh masih terendam banjir.<br /><br />Petani karet lainnya Adiono warga Dusun Pararawen Desa Lemo Kecamatan Teweh Tengah mengakui akibat banjir ini dia dan warga lainnya tidak bisa menyadap karet karena kebun terendam banjir.<br /><br />"Kami berharap banjir cepat surut, karena sudah mengganggu perekonomian warga. Kami juga mengharapkan bantuan dari pemerintah daerah," katanya.<br /><br />Sementara pemantauan di Muara Teweh, hampir seluruh kawasan perdagangan di Jalan Panglima Batur, Jalan Sengaji Hulu, Jalan Sengaji Hilir, Jalan Sumbawa dan Jalan Timor terendam banjir 1-2 meter.<br /><br />Aktivitas perdagangan lumpuh, bahkan para pedagang buah, makanan, sayur mayur dan ikan di Pasar Pendopo terpaksa pindah ke Jalan Merak dan Jalan Tumenggung Surapati Selain itu pasar tradisonal Pasar Ipu juga terendam banjir dan para pedagang pindah berjualan ke Jalan Durian dan Jalan Tumenggung Surapati.<br /><br />"Kami terpaksa pindah berjualan karena lokasi pasar kami terendam banjir," kata Ambi pedagang Pasar Ipu Muara Teweh.<br /><br />Curah Hujan Normal Kepala Kelompok Tenaga Teknis pada Stasiun Meteorologi Beringin Muara Teweh, Sunardi mengatakan banjir yang melanda wilayah Kabupaten Murung Raya dan Barito Utara akibat tingginya curah hujan di wilayah hulu.<br /><br />Tingkat curah hujan pada Desember 2012 di wilayah Kabupaten Murung Raya dan Barito Utara masih dibatas normal yakni sekitar 300 sampai 400 milimeter.<br /><br />"Sedangkan hujan di wilayah hulu atau kawasan utara Kabupaten Murung Raya sangat tinggi, sehingga menyebabkan banjir yang terjadi di dua kabupaten di pedalaman Sungai Barito itu," katanya.<br /><br />Dia mengakui di wilayah hulu atau sejumlah desa paling utara di Kabupaten Murung Raya itu tidak dilengkapi alat pengukur curah hujan dan lainnya, sehingga pihaknya kesulitan mengetahui berapa tingkat curah hujan saat ini yang diatas normal di wilayah pedalaman tersebut.<br /><br />Pihaknya meminta kepada pemerintah pusat untuk memasang pengukur cuaca otomatis (AWS=automatic weather station) di sejumlah desa di pedalaman Kabupaten Murung Raya diantaranya di wilayah Kecamatan Sumber Barito dan UUt Murung.<br /><br />"Dengan alat AWS ini kita dapat mengetahui berapa tingkat curah hujan tersebut," katanya.<br /><br />Banjir besar yang melanda sejumlah kabupaten di pedalaman Sungai Barito ini diperkirakan siklus hujan tujuh tahunan karena sebelumnya juga terjadi pada 1998, 2005 dan 2012 ini. <strong>(das/ant)</strong></p>