Guru Besar Universitas Tanjungpura Prof Dr Redatin Parwadi MA mengatakan kejujuran, lingkungan kerja dan pimpinan memegang peranan penting dalam pencegahan korupsi. <p style="text-align: justify;"><br />"Korupsi itu bermula dari niat, dan ada kesempatan yang didukung lingkungan, serta pimpinan," kata Redatin di Pontianak, Selasa.<br /><br />Ia mengaku tidak memantau dugaan perjalanan dinas fiktif di lingkungan Sekretariat DPRD Provinsi Kalbar yang kini mencuat di media. Namun ia menegaskan, perjalanan dinas yang fiktif merupakan modus lama dari tindak korupsi karena menyangkut kerugian keuangan daerah.<br /><br />"Bagaimana mencari-cari tambahan dengan cara-cara seperti itu," ujar dia. Redatin pada tahun 2009 telah meneliti tentang korupsi di kalangan birokrasi.<br /><br />Menurut dia, dari pengawasan yang telah dilakukan, ternyata modus operandi seperti itu tidak hilang. Uang yang dihimpun dari perjalanan dinas fiktif, biasanya digunakan untuk berbagai keperluan. Diantaranya dihimpun bersama dan dibagikan saat momen tertentu misalnya hari besar.<br /><br />"Ada yang uangnya diberikan ke pihak yang kadang meminta sumbangan," ungkap dia. Namun, ia menegaskan, dalam kaitan penyelenggaraan negara, hal tersebut tidak dibenarkan.<br /><br />Ia melanjutkan, pencegahan korupsi harus dimulai dari kejujuran. "Orang per orang," kata dia. Tetapi, kalau lingkungan bekerja sudah korup, maka orang baik-baik pun bisa terjebak di dalamnya.<br /><br />Ia menambahkan, tindakan korupsi akhirnya dianggap tidak apa-apa. Redatin memisalkan korupsi itu seperti candu. "Karena akan membuat keinginan untuk mengulang dan mengulang lagi," ujar dia.<br /><br />Begitu pula sebaliknya. Menurut Redatin, kalau sudah biasa dengan kejujuran, keinginan untuk korupsi pun tidak muncul.<br /><br />Sedangkan untuk perjalanan dinas, pimpinan sudah sepatutnya tahu siapa yang berangkat. "Pimpinan tentu tahu, siapa yang pergi atau tidak," katanya.<br /><br />Ia tidak memungkiri upaya memanipulasi data dan bukti sudah semakin canggih serta melibatkan banyak pihak. "Masing-masing ada yang bertugas," kata Redatin.<br /><br />Sebelumnya, Kepala Sub Bagian Keprotokolan Sekretariat DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Tugiyanto, menduga adanya perjalanan dinas fiktif yang dilakukan sejumlah PNS di tempatnya bekerja.<br /><br />"Perjalanan dinas itu menggunakan dokumen asli tapi palsu," ujar Tugiyanto saat dihubungi di Pontianak, Minggu.<br /><br />Ia mengaku pernah menghitung kemungkinan kerugian daerah dari perjalanan dinas yang diduga fiktif tahun 2012 tahap kedua mencapai Rp391 juta. <strong>(das/ant)</strong></p>


















