Refleksi Imlek 2563: Tahun Naga Momentum bagi Pemimpin yang Tegas dan Berani

Menurut legendanya, naga memiliki sifat alami sebagai pemimpin dan penuntun jalan. Dalam kebudayaan Tiongkok, naga tidak dianggap sebagai binatang ganas dan penuh ancaman, namun lebih merupakan binatang paling unggul di antara 12 shio binatang. <p style="text-align: justify;">Naga dianggap sebagai sari dari prinsip Yang (unsur hawa positip), sehingga naga diyakini sebagai sumber kebijaksanaan dan kekuatan, simbol dari perubahan dan perbaikan. Karena naga adalah jiwa perubahan, maka ia dianggap sebagai pengejawantahan harapan dan kehidupan. <br /><br />Jadi naga sering diindentikkan dengan produktivitas dan pembaharuan serta mempunyai pengaruh baik terhadap makhluk hidup di dunia. Bahkan dalam ilmu peruntungan feng shui, naga dipercaya meniupkan tenaga chi, yakni napas kosmis yang diatur dalam bangunan untuk mendatangkan kesuksesan.<br /><br />Beberapa hari lagi kita akan memasuki tahun Naga Air, tahun yang tepat bagi tampilnya pemimpin yang berani, tegas, dan penuh semangat nasionalis merintis berbagai terobosan untuk membawa bangsa Indonesia keluar dari masalah kerakyatan dan ketertinggalan. Setiap individu yang terpanggil untuk ikut memperbaiki kondisi, dapat segera merapatkan barisan dan secara bersama-sama menyiapkan Indonesia sebagai “naga baru dari asia” yang akan menggeliat dan menunjukkan kepemimpinannya di hadapan Asia dan dunia. Indonesia memiliki segala potensi menjadi bangsa yang dihargai bangsa-bangsa lain di dunia.<br /><br />Kepemimpinan di tahun naga ini, harus mampu menjawab berbagai persoalan kebangsaan dengan ketegasan, keberanian, pengorbanan, dan semangat nasionalis yang memperhatikan aspirasi dan rasa keadilan masyarakat. Berbeda dengan tahun kelinci yang lemah lembut dan penuh keraguan, maka pada tahun naga ini adalah tahun untuk menuntaskan banyak persoalan dengan kepemimpinan yang tegas. Hal-hal yang menjadi aspirasi dan rasa keadilan masyarakat harus mampu dijawab oleh kepemimpinan tersebut. <br /><br />Kasus Century, mafia hukum dan pajak, kelangkaan pangan, tingginya harga kebutuhan hidup, dan tetap lemahnya ekonomi sektor riil dan industri dalam negeri harus segera dituntaskan.<br /><br />Masalah keadilan dan kesejahteraan ini pula yang bisa disumbangkan oleh masyarakat Tionghoa untuk bangsa dan rakyatnya. Dengan semangat nasionalisme yang berkeadilan, kerja keras, dan gotong royong, semua anak bangsa harus mampu menjawab 3 persoalan utama bangsa ini yakni kemiskinan, ketidakadilan, dan ketidakdaulatan.</p> <p style="text-align: justify;"><img src="../../data/foto/imagebank/20120119122220_60CC1C8.jpg" alt="" width="635" height="371" /><br /><br />Kemiskinan harus dijawab dengan kemandirian ekonomi yang mengandalkan kekuatan anak bangsa indonesia sendiri. Segala peraturan yang memperlemah kemandirian dan semakin meningkatkan ketergantungan kepada asing harus dikoreksi. Kita yakin sepenuhnya bahwa ekonomi dan industri dalam negeri bisa kuat selama itu dijalankan oleh anak bangsa Indonesia sendiri.<br /> <br />Gebrakan MP3EI misalnya, harus mendapat dukungan sekaligus pengawalan bersama. Jangan sampai MP3EI justru sebagai pintu masuk untuk melemahkan kemandirian dan memperkuat ketergantungan kepada asing. Kita tidak ingin MP3EI sama dengan “Indonesia for Sale”. Namun dengan semangat kepemimpinan yang tegas, gotong royong, nasionalis, dan penuh terobosan, kita harus menjadikan MP3EI sebagai pintu mewujudkan “Indonesia Incorporate” yang membanggakan. <br /><br />Kepemimpinan yang tegas harus mampu menjawab ketidakadilan dengan kepastian dan ketegasan hukum yang berkeadilan. Saat ini mental dan praktek korupsi sudah mengacak-acak keadilan hukum kita. Sebagai negara hukum, kita tidak dapat terus membiarkan bahwa hukum hanya berfungsi untuk menghukum kasus-kasus kecil orang kecil dan sebaliknya membebaskan kasus-kasus besar orang besar.<br /><br />Sementara ketidakdaulatan harus dilakukan dengan mengevaluasi semua peraturan dan UU yang tidak konsisten dengan 4 pilar kebangsaan kita, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Ada begitu banyak UU yang menggerogoti kita sebagai bangsa yang berdaulat. Hal-hal mendasar yang menyangkut kesejahteraan rakyat telah diserahkan kepada asing dan pasar. Seakan negara dan pemerintah tidak lagi punya kewajiban menjamin hak kesejahteraan rakyat. Bila kita konsisten dengan 4 pilar kebangsaan, kita yakin ekonomi, industri, politik, pangan, dan energi Indonesia akan tumbuh kuat ditangan anak bangsanya sendiri, bukan malah diserahkan kepada asing.<br /><br />Kepemimpinan yang tegas, berani, memiliki semangat nasionalisme dan keadilan ini, akan selalu hadir di dalam setiap persoalan yang dihadapi rakyat dan bangsanya. Kepemimpinan tersebut yang saat ini dinantikan oleh segenap rakyat Indonesia. Kepemimpinan yang mampu menghadirkan pemerintah dan negara di dalam persoalan kerakyatan, khususnya dalam menjawab rasa keadilan, kesejahteraan, dan kedaulatan bangsa.<br /><br />Oleh karena itu, momentum tahun naga adalah juga momentum bagi the outsiders, meminjam istilah Herbert Marcuse, sebagai momentum bagi mereka yang berani berdiri di luar berbagai kebobrokan yang ada saat ini, mereka yang terus bergerak dengan tulus demi bangsanya, berani melawan arus, tanpa peduli akan dikenang ataupun dihina. Mereka adalah sosok-sosok yang mampu menangkap berbagai potensi yang dimiliki bangsa ini, untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Segenap anak bangsa yang memiliki semangat yang sama ini harus mulai tampil menggeliat untuk bekerja bahu membahu bersama “the outsiders” lainnya, untuk membawa bangsa Indonesia mencapai kemajuan sesuai amanat Konstitusi.<br /><br />Atas Nama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek 2563, Xin Nian Kuai Le, Gong Xi Fa Chai. <strong>(phs/siaran pers)</strong></p>