Reni: Tidak Mudah Mengajar Siswa Yang Tinggal Di Daerah Pedalaman

oleh

Menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah. Banyak suka duka yang dirasakan terlebih lagi mereka yang mengajar di daerah pedalaman. Seperti sebuah iklan, menjadi guru itu sangat menyenangkan tapi sangat sulit dijalani. <p style="text-align: justify;">Reni, satu diantara guru kontrak yang mengajar di SD di Desa Begadung mengungkapkan, baginya mengajar adalah suatu hal yg luar biasa. Ketika berjumpa dengan siswa, menjelaskan suatu hal yang belum diketahui siswa dan siswa dapat memahami apa yang disampaikan.<br /><br />"Saya senang mengajar, walau pun ada beberapa kendala. Biasalah, muridkan ada yang mudah memahami ada juga yang lambat dalam memahami apa yang kita sampaikan," jelas Reni, Senin (25/11/2013) kemarin.<br /><br />Ia mengatakan, ada beberapa karateristik siswa yang ia temui ketika mengajar. Tentunya ini juga membuat dia banyak belajar untuk menjadi lebih baik.<br /><br />"Ada siswa yang mau bertanya tapi ada juga yang tidak, bahkan ketika kita tanya pun mereka tidak menjawab," ucapnya.<br /><br />Kendala yang paling berat dirasakannya selain dengan perbedaan karakter siswa adalah ketika ia harus menyelesaikan target kurikulum.<br /><br />"Terkadang, faktor daerah dan pendidikan mereka yang ada di daerah perkampungan membuat saya merasa sulit untuk menyampai target. Terlebih lagi kita harus memberikan pendidikan karakter kepada siswa yang tentunya diharapkan tidak hanya dilaksanakan siswa pada waktu KBM saja tetapi juga memberikan dampak positif ketika siswa berada diluar kelas," jelasnya.<br /><br />Terlebih, mata pelajaran yang diajarkannya adalah mata pelajaran Bahasa Inggris yang selama ini menjadi momok yang menakutkan bagi beberapa siswa.<br /><br />Ia mengaku harus mencari cara agar membuat siswanya menyukai pelajaran tersebut. Pasalnya, ia yakin jika siswa tersebut sudah menyukai pelajarannya maka siswa pun akan mudah memahaminya.<br /><br />"Tidak mudah mengajar siswa yang memang tinggal di daerah pedalaman, karena daya tangkap ataupun fasilitas yg mereka mliki terbatas sehingga sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran serta kualitas suatu SDM. di sini guru dituntut penuh atas keberhasilan suatu kurikulum yg memamg belum imbang," jelasnya.<br /><br />Ia mengungkapkan, dirinya harus kreatif dan benar-benar inovatif dengan menggunakan media seadanya sebagai penunjang KBM.<br /><br />"Semangat anak yang tinggal di kampung sangat lemah mereka hanya berpikir bagaimana mencari uang, sepulang sekolah mereka harus noreh untuk membantu orang tuanya, ketika badan sudah mulai lelah mereka harus istirahat, seolah waktu berputar sangat cepat hingga sebagian dari mereka tak sempat membuka buku," paparnya.<br /><br />Ia pun mengaku kesulitan mengajar karena ternyata untuk perhatian pemerintah terhadap pendidikan yang ada di pelosok sangat minim.<br /><br />"Saya tidak bilang, tidak ada perhatian dari pemerintah tapi memang ketika turun kelapangan, saya baru sadar, kenapa kualitas pendidikan di daerah pedalaman sangat rendah, karena memang banyaknya infrastruktur yang tidak dibenahi," ucapnya.<br /><br />Ia mengaku ada beberapa guru ingin segera dipindahkan ke kota. Hal itu terkait beberapa hal, misalnya jeleknya infrastruktur jalan yang tidak memudahkan guru untuk melakukan transportasi dalam mencari bahan pembelajaran, dan kurangnya tunjangan guru yang diberikan oleh dinas terkait.<br /><br />"Terkait tunjangan, ada baiknya memperhatikan keadaan guru honor yang gajinya banyak tidak sesuai dengan kinerjanya. Wajar saja, kalau ada guru yang tak betah, guru juga kan manusia biasa," tukasnya.<strong> (das/yri)</strong></p>