Retribusi Pasar Inpres Naik 12 Kali Lipat

oleh

Para pedagang yang mencari nafkah dengan berjualan di pasar Inpres Tanjungpuri Sintang merasa dongkol lantaran pemerintah secara sepihak menaikan tariff rerstribusi hingga ratusan persen. <p style="text-align: justify;">Sebelumnya para pedagang hanya diminta membayar restribusi Rp 250 ribu per tahun. Namun  sejak bulan Juni ini, berdasarkan surat edaran Nomor : 974/1293/I-DPPKA tertanggal 29 Mei 2012, tentang pemberlakuaan tarif retribusi pasar grosir/pertokoaan, para pedagang diminta membayar restribusi sebear Rp 3 juta per tahun. Para pedagang menilai bahwa surat edaran yang tertulis mengacu pada perda Nomor 5 tahun 2012 tentang restribusi jasa usaha ini “mencekik” leher  mereka.  <br /><br />“Kami menilai aturan itu sangat tidak merakyat, Pedagang dijerat dengan perda retribusi. Apalagi tanpa ada sosialisasi, tiba-tiba saja pedagang diberi surat edaran kenaikan tarif yang luar biasa," ungkap H. Sarmen, salah seorang pedagang yang mangkal di pasar Inpres tersebut.<br /><br />Pria yang mengaku sudah berjualan selama kurang lebih 30 tahun ini, pasar inpres merupakan pasar bantuan dari presiden. Sebenarnya pemerintah daerah hanya diminta mengelola saja. Ia juga menilai kenaikatn tarif yang ditentukan itu sangat tidak sesuai dengan perhatian pemerintah daerah selama ini. Berbagai kerusakan yang terjadi di paar tersebut, menurutnya diperbaiki dan ditanggung sendiri oleh para pedagang.<br /><br />“Jangankan dibangun atau diperbaiki, di cat saja tidak pernah. Padahal atapnya sudah banyak yang bocor dan banyak bagian bangunan lain yang rusak. Kami sendiri yang selama ini memperbaikinya,”bebernya. <br /><br />Ditambahkan Sy.Mukarram pemerintah mestinya tidak sepihak saja dalam menentukan besaran tarif restribusi. Nilai restribusia yang 12 kali lebih besar dari tarif sebelumnya menurutnya sama saja dengan pemerintah menjadikan para pedagang di pasar itu sebagai sapi perahan. <br /><br />“Mestinya pemerintah mengecek, berapa sih pendapatan para pedagang di sini setiap harinya. Kami inikan manusia, bisa diajak bicara, bisa diajak berpikir. Bukan langsung di”tembak” dengan tarif yang langsung 12 kali lipat ini,”pungkasnya.<br /><br />Ia pun berharap agar para anggota dewan bisa juga memperjuangkan aspirasi dan keluhan para pedagang yang ada di pasar inpres tersebut. <br />“Dewan jangan diam, jangan datang pada saat akan pemilihan. Tolong juga perhatikan kami pedagang yang ada di pasar ini,”pintanya.<br /><br />Ditambahkan Mukarram, selain restribusi yang harus dikeluarkan 12 kali lipat dari tarif sebelumnya, pada pedagang juga masih dibebani untuk membayar uang kebersihan, uang keamanan dan berbagai pungutan lainnya. <br /><br />Berdasarkan surat edaran Nomor : 974/1293/I-DPPKA tertanggal 29 Mei 2012, tentang pemberlakuaan tarif retribusi pasar, pihak DPKKA juga melakukan klasifikasi restribusi berdasarkan kelas. Kelas A, besarnya tarif  Rp 3 juta per tahun atau Rp 250 ribu perbulan.<br />Kelas B, besarnya Rp 2,1 juta  per tahun atau Rp 175 ribu perbulan. Kelas C, besarnya tarif Rp. 600 ribu per tahun atau Rp 50.000 perbulan. Peraturan diberlakukan mulai tanggal 1 Juli 2012.<strong> (ast)</strong></p>