Pemerintah Indonesia masih menyelidiki keberadaan Warga Negara Indonesia yang melakukan eksodus ke Filipina Selatan dan berlatih militer di Mindanao. <p style="text-align: justify;">"Kami sudah menerima informasi tersebut dan telah mengerahkan seluruh unsur-unsur intelijen untuk memastikan hal tersebut," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro usai bertemu Menteri Pertahanan Singapura Teo Chee Hean di Jakarta, Kamis (09/12/2010).<br /><br />Ia mengemukakan, pihaknya sudah menghubungi Atase Pertahanan di Perwakilan RI di Filipina dan instansi terkait untuk menelusuri keberadaan para WNI dan kegiatannya di Filipina Selatan.<br /><br />"Sedang kita telusuri terus," kata Purnomo menegaskan.<br /><br />Dari Sulawesi Utara dilaporkan ribuan warga Suku Sangihe, Sulawesi Utara (Sulut) dilatih gerilyawan Moro di Mindanao Selatan, Filipina.<br /><br />Terkait itu, Pangkalan TNI AL (Lanal) Tahuna, semakin memaksimalkan pengawasan di perbatasan. Sementara DPRD Sangihe menilai eksodus warga tersebut karena tekanan ekonomi.<br /><br />Ribuan warga yang diduga bergabung dengan jaringan Al Qaeda tersebut berasal dari tiga kabupaten kepulauan di Sulut, Sangihe, Sitaro, dan Talaud.<br /><br />Mereka adalah Suku Sangihe yang kawasannya disebut pula sebagai Nusa Utara. Dari dua tiga Kabupaten tersebut, Talaud tepat berada di tapal batas Indonesia-Filipina.<br /><br />Pendeta Wolf yang belasan tahun melayani kerohanian warga asal Nusa Utara di pesisir Mindanao Selatan, menyatakan sudah sekitar 2.000 warga Indonesia dilatih Moro bersama kelompok Al Qaeda.<strong> (phs/Ant)</strong></p>


















