Ribuan Hektare Jaringan Irigasi Tak Berfungsi

oleh

Sedikitnya 1.925 hektare jaringan irigasi dan rawa ditiga kecamatan di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, tidak berfungsi untuk mengairi lahan persawahan. <p style="text-align: justify;">"Ribuan hektare jaringan irigasi itu tidak berfungsi, sehingga masyarakat tidak membuka lahan tersebut untuk persawahan," kata Kepala Bidang Sumber Daya Air pada Dinas Pekerjaan Umum Barito Utara, Mansaji di Muara Teweh, Minggu.<br /><br />Menurut itu, tidak dimanfaatkannya lahan yang potensial itu tersebar di sentra padi sawah wilayah Kecamatan Teweh Tengah, Gunung Timang dan Montallat karena warga kesulitan membuka lahan dengan alasan membutuhkan biaya relatif besar.<br /><br />Selain itu, kata dia, ada sejumlah pemilik lahan yang sengaja menelantarkan lahannya, padahal sudah tersedia saluran irigasi.<br /><br />"Tahun 2012 kami memprogramkan pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi dan pengendalian banjir tersebar di sejumlah kecamatan," katanya.<br /><br />Dua program prioritas ini untuk menunjang kelancaran para petani dalam melakukan pertanaman padi maupun palawija dalam dua musim tanam dalam setahun.<br /><br />Kegiatan tersebut mengggunakan dana lokasi khusus (DAK) sebanyak delapan paket pekerjaan senilai Rp911 juta dan dana alokasi umum (DAU) dengan 26 paket kegiatan sebesar Rp2,5 miliar.<br /><br />Kegiatan tersebut meliputi pemeliharaan saluran dan jaringan irigasi pada sentra padi sawah di tiga kecamatan antara lain Kecamatan Teweh Tengah, Montallat dan Kecamatan Gunung Timang.<br /><br />"Melalui pemeliharaan saluran irigasi tersebut kebutuhan air persawahan milik petani dapat terpenuhi," katanya.<br /><br />Dia mengatakan, jaringan irigasi dan rawa yang tidak fungsional itu diantaranya di Desa Trinsing seluas 300 hektare dan Desa Buntok Baru 250 hektare di Kecamatan Teweh Tengah.<br /><br />Di Kecamatan Montallat antara lain Kelurahan Montallat 150 hektare, Kelurahan Tumpung Laung I 300 hektare dan Desa Kamawen 250 hektare. Sedangkan Kecamatan Gunung Timang tersebar di Desa Manjangkan dan Baliti masing-masing 100 hektare, Desa Bawang 75 hektare, Mantiong 100 hektare dan Batu Raya 300 hektare.<br /><br />"Padahal pemanfaatan air irigasi dan rawa itu selain untuk persawahan juga kolam ikan," katanya.<br /><br />Sementara Kabid Pertanian pada Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Barito Utara, Roosmadianor mengatakan pihak musim tanam tahun ini memprogramkan perluasan areal tanam padi sawah pada lahan terlantar di kawasan irigasi.<br /><br />"Perluasan lahan pertanian ini untuk mengoptimalkan manfaatan lahan terlantar yang telah tersedia sarana irigasi," katanya.<br /><br />Menurut Roosmadianor, selama ini luas lahan terlantar yang tidak dimanfaatkan pemiliknya baik untuk kawasan pertanian maupun perikanan di sejumlah kawasan irigasi di Barito Utara mencapai ratusan hektare.<br /><br />Kawasan yang menjadi sasaran perluasan lahan pertanian itu tersebar di wilayah Kecamatan Teweh Tengah di Desa Trinsing, Trahean dan Tranbangdep, Kecamatan Gunung Timang berad di Desa Rarawa, Walur, Ketapang, Malungai dan Baliti. Sedangkan di Kecamatan Montallat tersebar di Kelurahan Montallat II dan Tumpung Laung.<br /><br />"Dalam waktu dekat akan dilakukan pendataan dan inventarisasi lahan oleh petugas kami di lapangan," katanya.<br /><br />Roosmadianor menjelaskan, pendataan itu akan dilihat apa saja yang menjadi kebutuhan petani untuk pemanfaatannya termasuk kemungkinan penyediaan sarana produksi seperti herbisida, pupuk cair dan benih.<br /><br />Diharapkan lahan-lahan tidur atau terlantar yang belum dibuka oleh petani tersebut dapat dijadikan lahan persawahan dan lainnya.<br /><br />"Kita harapkan lahan yang terlantar itu dapat meningkatkan produksi pertanian dan mampu menekan kekurangan beras di daerah ini," katanya.<strong> (phs/Ant)</strong></p>