RSUD Sanggau Siap Tangani Pasien DBD

oleh

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanggau dr Fadli Persi MARS mengatakan, hingga awal Juli 2011 ini belum ada peningkatan signifikan untuk kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang masuk ke RSUD tersebut. Meskipun pihak dinas kesehatan sudah menyatakan bahwa kemungkinan akan ada peningkatan kasus DBD mulai Juni hingga Oktober 2011 mendatang. <p style="text-align: justify;">Ketika dikonfirmasi, Minggu (3/7) dr Fadli mengatakan pihaknya selalu siap menangani masalah termasuk jika terjadi peningkatan temuan kasus DBD di Kabupaten Sanggau. Dengan fasilitas yang dimiliki oleh RSUD Sanggau pihaknya siap membantu masyarakat yang membutuhkan, terlebih penyakit DBD merupakan penyakit yang membutuhkan pertolongan segera.<br /><br />“Sampai hari kalau terkait peningkatan kasus, relatif belum ada peningkatan kasus untuk Demam Berdarah Dengue (DBD), hanya saja untuk data riil harus dilihat di bagian pendataan. Kalaupun ada peningkatan tentunya kita tetap siap dengan peralatan dan fasilitas yang kita miliki sekarang,” ujar Fadli.<br /><br />Sementara kepala dinas kesehatan Kabupaten Sanggau dr Jones Siagian M Qih ketika dikonfirmasi belum lama ini mengatakan, berdasarkan data yang dimiliki dinas kesehatan. Memang kemungkinan besar akan ada peningkatan kasus DBD di Kabupaten Sanggau mulai Juni hingga Oktober 2011 mendatang, mengingat waktu tersebut masuk dalam siklus lima tahunan DBD.<br /><br />“Tahun 2011 ini masuk siklus lima tahunan DBD, kalau pada tahun 2010 yang lalu siklus tiga tahunanya dan biasanya akan terjadi peningkatan temuan kasus pada waktu-waktu tersebut. Makanya kita sudah melakukan upaya maksimal agar kemungkinan terjadinya peningkatan kasus secara signifikan tersebut bisa ditekan seminimalisir mungkin,” tandasnya.<br /><br />Satu diantara upaya yang sudah dilakukan oleh pihak dinas kesehatan menurut dr Jones adalah melakukan pengasapan atau fogging secara masal disekitar Kota Sanggau sejak bulan Juni yang lalu. Dalam upaya memutuskan mata rantai penyebaran nyamuk aedes agepty yang merupakan penyebab utama penyakit mematikan tersebut.<br /><br />“Untuk fogging sudah kita laksanakan, sebenarnya bukan hanya untuk memutuskan mata rantai nyamuk DBD saja tapi semua nyamuk pembawa penyakit termasuk kaki gajah yang juga disebabkan oleh aedes agepty. Harapanya memang nyamuk-nyamuk tersebut bisa mati dan temuan kasus DBD yang ada mengalami pengurangan,” ujarnya.<br /><br />Upaya lain yang sudah dilakukan pihak dinas kesehatan menurutnya adalah mensiagakan puskesmas-puskesmas yang ada di Kabupaten Sanggau. Yang menjadi pembantu terdepan rumah sakit dalam menangani kasus-kasus yang ada di Kabupaten Sanggau, termasuk kasus DBD mengingat tidak semua pasien di Sanggau bisa dirawat di RSUD Sanggau.<br /><br />“Kita memiliki cukup banyak puskesmas di Kabupaten Sanggau sekitar 17 puskesmas yang tersebar di 15 kecamatan. Data-data penderita DBD yang ada di dinas kesehatan ini hampir keseluruhan bersumber dari puskesmas-puskesmas tersebut, karena mereka yang terdepan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” tandasnya.<br /><br />Namun yang terpenting dalam penanganan kasus DBD termasuk penyakit yang disebabkan oleh nyamuk lainya dijelaskanya Jones adalah kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan disekitar rumahnya masing-masing. Khususnya bak-bak penampungan  air yang ada disekitar rumah harus sering dilakukan pembersihan agar tidak menjadi sarang nyamuk.<br /><br />“Cara efektif yang lain untuk menghindarkan diri dari nyamuk berbahaya tersebut adalah dengan tetap menggunakan kelambu yang sudah dibagikan kepada masyarakat beberapa waktu yang lalu. Jangan hanya karena merasa enggan menggunakan kelambu justru kita terkena penyakit yang sulit disembuhkan,” tandasnya.<strong>(phs)</strong></p>