Sawah, Antisipasi Pembakaran Lahan

oleh

Pengelolaan ladang berpindah tidak terlepas dari pembakaran lahan. <p style="text-align: justify;">“Pengelolaan lahan sawah bisa dengan cara tidak dibakar, bahkan sangat baik bila tidak dibakar. Mengelolaan tidak bakar ini sangat baik untuk tanaman padi,” kata pendamping masyarakat, Duin, SP, Kamis (29/10/2015).<br />&lt;br />Lantas dijelaskanya, ladang berpindah masukan nutrisi tanaman dari  hasil pembakaran kayu dan resap. Pembakaran lahan yang baru juga baru bersih juga dengan proses pemkabaran. Sebab, proses pembusukan sangat lama atau dengan alat berat juga mahal.<br /><br />“Memang tidak ada pilihan lain,kecuali pembakaran bila pengelola ladang berpindah. Metode lain membutuhkan dana yang besar dan waktu yang lama. Waktu dan dana besar ini tidak akan  mampu mengimbangi hasil panen,” ulasnya.<br /><br />Sebaliknya, bila bersawah, tidak perlu  ada pembakaran. Apalagi sawah tersebut sudah bertahun-tahun dilakukan pada lokasi yang sama. Bahkan membakar lahan akan merugikan sebab bisa menghilangkan nutrisi tanah.<br /><br />“Kalau bersawah,paling saat pertamakali membukalahan saja yang dibakar. Itu pun untuk lokasi yang masih ada kayu-kayu besar. Kalau tidak ada kayu, hanya rumput saja tidak perlu pembakaran. Proses selanjutnya tidak perlu pembakaran,” ulasnya.<br /><br />Lebih jauh diterangkannya, perlu dilakukan adalah lahan sawah ditanamiterus menerus. Sebab, terang Duin, banyak petani yang ada di Melawi tidak betah dengan prosespemciptaan lahan sawah. Ekosistem sawah baru terbentuk paling tidak ditanam berturut-turut selama 5 tahun. Bila ditanam secara terus menerus 5 tahun akan terbentuk lapisan bajak atau lapingan yang menahan air meresap ke bawah. Juga akan terbentuk lapisan tanah atas yang subur dengan banyak organisme.<br /><br />“Kenyataan di lapangan satu kali tanam mereka masih semangat, tanam kedua lapisan tanah subur sudah pagi agak, ketiga orang sdah tidak maulagi menanam. Sebab, dipastikan tidak subur, tetapi kalau ditanam, maka akan membantuk ekosistem sawah,” ulasnya.<br /><br />Bila terus dilanjut,  ekosistem sawah akan terbentuk ditambah lagi petani pun semakin mahir bersawah. Kondisi ini kata Duin, membuat biaya dan teknik budidaya akan semakin rumah dan mudah dan hasil akan besar.<br /><br />“Jadi swasembada akan tercipta, pembakaran lahan pun akan untuk berladang pun tidak ada lagi,” ulasnya.<br /><br />Disisi lain, bila sawah yang dibentuk tersebutdengansistem sawah ada sumber airnya dari kawasan hutan.  Kata Duin, ada kebutuhan untuk melestarikan sumber air. Sebab, sumber air ini tidak bisa dilepaskan kondisi tutupan hutan yang baik.<br /><br />“Hutan yang menjadi sumber air dengan sendirinya akan dijaga oleh petani. Sebab, air itu sangat penting bagi keberhasilan bersawah. Apalagi sawah tersebut memang menberi manfaat bagi kehidupan masyarakat,” pungkasnya. (KN)</p>