SBI Tanam Rambai Pulau Bakut Selamatkan Bekantan

oleh

Anggota pecinta lingkungan Sahabat Bekantan Indonesia ( SBI ) ditemani oleh dutanya dari Jerman Franziska Fuchs melakukan penanaman sejumlah bibit tumbuhan rambai padi (soneratia-sp) wilayah Pulau Bakut, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, sebagai makanan kera Bekantan (Nasalis larvatus). <p style="text-align: justify;">Penanaman tumbuhan mangrove berlangsung hari ini Minggu, 15 Maret 2015, kemarin upaya menyelamatkan kehidupan Bekantan, kata Ketua SBI Amalia Razeki kepada wartawan di Banjarmasin, Senin Dijelaskan, Pulau Bakut menjadi tujuan penanaman pohon oleh SBI dan kawan-kawan karena lokasi itu merupakan habitat bekantan yang ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam ( TWA ) oleh Kementerian Kehutanan RI berdasarkan SK Nomor 140/Kpts-II/2003, tanggal 21 April 2003 dengan luas lebih kurang 18,70 hektar.<br /><br />Kawasan ini memiliki keunikan selain sebagai habitat bekantan, ekosistem pulaunya terdiri dari hutan mangrove dengan berbagai keanekaragaman hayatinya yang terletak di sungai Barito dan pulau Bakut dilintasi jembatan Barito yang membentang sepanjang 1.082 m.<br /><br />Upaya pelestarian Bekantan tidak hanya menjadi tanggung jawab warga Kalimantan Selatan saja. Ini dibuktikan dengan kehadiran Franziska Fuchs atau yang biasa dipanggil Franzie, seorang pelajar dari Berlin – Jerman.<br /><br />Gadis Remaja cantik yang sedang mengikuti program pertukaran pelajar tersebut memiliki perhatian khusus terhadap monyet si hidung mancung yang menjadi maskot provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), yang juga merupakan aset primata dunia, keberadaannya terancam punah dan masuk dalam daftar merah lembaga konservasi dunia, seperti IUCN serta Appendix I dalam CITES.<br /><br />"Saya mengapresiasi kegiatan SBI yang dipimpin ibu Amalia Rezeki, yang berupaya melestarikan Bekantan di Kalimantan Selatan. Untuk itu saya bersedia menjadi relawan sebagai Duta Bekantan di negeri saya, dengan misi mengenalkan sekaligus mengkampanyekan pelestarian bekantan, hewan yang unik dan lucu ini, kata Franzie seperti dikutipkan Amalia Razeki.<br /><br />Franzie adalah salah satu duta bekantan luar negeri yang dipunyai SBI, sebelumnya ada Jasmine Vink mahasiswi ekologi S2 di Brisbane – Australia dan Annisa Amalia mahasiswi cinematography di Seatle – Amerika Serikat.<br /><br />Keberadaan duta bekantan di luar negeri ini, untuk membantu upaya pengenalan dan pelestarian bekantan, yang kini bukan saja milik bangsa Indonesia, akan tetapi juga sudah menjadi aset primata dunia, Karena bekantan adalah primata unik dan endemik yang hanya terdapat di Pulau Kalimantan, saat ini di alam liar keberadaannya terusik oleh lajunya pembangunan dan pertumbuhan penduduk, sehingga dinyatakan terancam punah.<br /><br />Populasinya setiap tahunnya mengalami penurunan sangat drastis, di kalimantan selatan sendiri diperkirakan sisa sekitar 4500 – 5000 ekor saja lagi.<br /><br />Dalam rangka upaya konservasi bekantan, Franzie bersama SBI mengadakan penanaman pohon rambai sebagai makanan utama bekantan di Pulau Bakut, kabupaten Barito Kuala.<br /><br />Penanaman kembali pohon rambai ini penting bagi bekantan, karena pohon tegakan khas hutan mangrove ini bukan saja merupakan pakan utama bekantan, akan tetapi juga rumah bagi bekantan.<br /><br />Sebagai primata arboreal, bekantan menghabiskan waktunya dengan beraktivitas di atas pohon tersebut. Aktivitas bekantan kesehariannya, baik sosial, makan dan tidur pada umumnya dilakukan di atas pohon rambai. (das/ant)</p>