Sejumlah Guru Mengaku Trauma Karena OTT di Sekolah

oleh

Rasa trauma bercampur sedih masih dirasakan para guru di SMA Negeri 1 Nanga Pinoh. Terlebih mengingat kepribadian dan keseharian kedua guru PNS yang kini sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak tim Saber Pungli Melawi tersebut dinilai sebagai orang yang selalu disiplin dan taat aturan. <p style="text-align: justify;">Seperti yang disampaikan salah seorang guru SMA negeri 1 Nanga Pinoh, Ria Asti Nugroho. Ia mengatakan, HA selaku kepala sekolah selalu menegakan kedisiplinan serta melaksanakan segala sesuai berdasarkan Juklak dan Juknis. <br /><br />“Dalam mendidik kepsek kami itu tidak setengah-setengah. Apalagi sebagai kepsek sistim transparansi keuangan sangat baik. Segala program yang dilaksanakan di sekolah, Kepsek tidak pernah mau pegang uang, lansung coordinator yang menjalankan keuangan,” ucapnya. <br /><br />Kemudian, lanjutnya, sistim keuangan yang tranparansi senantiasa diperiksa BPK, serta melakukan rapat bersama Komiter dan para wali murid. <br /><br />“Menurut saya Kepsek kami itu sosok kepribadian yang baik dan jujur, makanya kami menyesalkan kenapa ini terjadi. Saya yakin Kepsek kami tidak akan memungut biaya ijazah kalau sudah sosialisasikan dan itu diketahuinya termasuk kategori Pungli pasti Ia tidak akan melaksanakannya. Ini karena ketidaktahuan dan karena tidak ada sosialisasi dari tim saber ke sekolah-sekolah,” paparnya.<br /><br />Kemudian, tambahnya, untuk HPR juga selaku guru Bahasa Indonesia yang disiplin dan baik. Ia yang tidak tau menau, dan hanya karena ingin membantu rekannya yang sedang hamil, juga dijadikan tersangka oleh Tim Saber Pungli.<br /><br />“Meskipun banyak tugas-tugas tambahan, HPR tetap saja disiplin. Mendidik siswa dengan baik, dan saya rasa integritasnya sangat tinggi. Meskipun sakit atau ada kendala apapun, mereka tetap berusaha masuk kelas untuk mengajar dan mendidik,” pungkasnya. (KN)</p>