Sekolah Bukan Prioritas Sambungan Listrik

oleh
oleh

Hampir 50 persen rumah di Sekadau belum mendapat sambungan listrik PLN. Dusun-dusun terasa gelap ketika malam hari tanpa kehadiran penerangan lampu. Seperti Dusun Sejirak Padang Milas dan Empering menjadi bukti lambatnya penyambungan listrik PLN. <p style="text-align: justify;">Dampaknya, penduduk menggunakan generator set pribadi yang notabene berbiaya tinggi. <br /><br />Pengeluaran untuk bensin maupun pemeliharan mencapai Rp500 ribu per bulan. Jelas sangat memberatkan warga yang sebagian besar bekerja sebagai petani. <br /><br />Seperti kata Ketua RT02/RW1 Dusun Empering Darius Akon yang sudah mengajukan permohonan penyambungan listrik berkali-kali ke PLN maupun instalatir. Namun belum ada respons dari PLN. Dusun tetangga, Perupuk Mentah yang berjarak sekitar 2 kilometer yang telah mendapatkan listrik PLN. <br /><br />“Bosan juga terlalu lama menunggu,” tuturnya.<br /><br />Senada, Kepala Sekolah SDN 43 Empering YP Maleka mengakui beberapa alat peraga menjadi sia-sia karena tidak ada sambungan listrik. Bertahun-tahun satuan pendidikan itu tanpa listrik.<br /> <br />“Belajar menjadi lemah,” ucap dia. <br /><br />Sementara itu, Manajer PT PLN Ranting Sekadau Yudi Yanto mengakui rasio elektrifikasi di Sekadau masih sebatas 50,7 persen. Target 2012 harus mencapai 60 persen. <br /><br />“Kita berusaha untuk memenuhi target tersebut,” jelas dia.<br /><br />Terhadap sekolah-sekolah yang belum mendapat aliran listrik PLN diakui Yudi banyak. Hanya saja pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Pengajuan penyambungan listrik ke sekolah yang termasuk fasilitas social disamakan dengan rumah. Itupun keputusan berada di PLN Wilayah Kalbar.<br /> <br />“Kita hanya sebatas mengajukan,” ujar dia. <strong>(phs)</strong></p>