Semarang Belum Maksimal Jadi Kota Layak Anak

oleh

Konsorsium Peduli Anak Kabupaten dan Kota Semarang (Kompass) menilai bahwa Kota Semarang belum maksimal sebagai kota layak anak. <p style="text-align: justify;">Konsorsium Peduli Anak Kabupaten dan Kota Semarang (Kompass) menilai bahwa Kota Semarang belum maksimal sebagai kota layak anak.<br /><br />"Kota Semarang telah ditetapkan sebagai Kota Layak Anak pada 23 Juli 2009, tetapi ‘greget’nya tidak maksimal karena kurangnya komitmen dari pemerintah kota setempat," kata Manajer Kompass, Paulus Mujiran, di sela peringatan Hari Anak di Wonderia Semarang, Sabtu.<br /><br />Paulus mengatakan pengaturan Kota Semarang sebagai Kota Layak Anak hanya didasarkan pada Peraturan Wali Kota Tahun 2010, tetapi tidak ada peraturan daerah.<br /><br />"Seharusnya untuk menjadikan Kota Semarang sebagai Kota Layak anak harus disertai komitmen, salah satu dengan dibentuknya perda," katanya.<br /><br />Ia mengaku kesulitan masalah anggaran untuk sejumlah kegiatan. Dalam rangkaian peringatan Hari Anak Nasional, Sabtu, Kompass menggelar aksi damai di Wonderia dan Bundaran Videotron Jalan Pahlawan Semarang melakukan sosialisasi penanggulangan HIV AIDS.<br /><br />"Sebelumnya kami juga melakukan kegiatan yang sama di alun-alun Ungaran, Kabupaten Semarang," katanya.<br /><br />Paulus mengatakan tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga rentan terhadap HIV AIDS apalagi jika orang tuanya tidak mengetahui cara mencegah penularan penyakit berbahaya tersebut.<br /><br />"Saat ini di Semarang, data tahun 2010 terdapat 40 ibu rumah tangga terkena HIV AIDS. Oleh karena itu, pengetahuan orang tua harus memadai," katanya.<br /><br />Ibu rumah tangga harus mengetahui jika dirinya positif HIV AIDS, tidak boleh melahirkan secara normal dan tidak boleh menyusui anaknya (memberikan air susu ibu).<br /><br />"Penyakit HIV AIDS adalah penyakit yang memalukan, sehingga banyak yang justru menutupinya. Padahal risikonya sangat tinggi. Oleh karena itu, yang saat ini terus dilakukan adalah dengan pendekatan keluarga," katanya.<br /><br />Paulus menambahkan bahwa di Kabupaten Semarang, ada dua daerah binaan yang sekarang justru menjadi desa ramah anak yakni Desa Wonorejo, Kecamatan Pringapus dan Desa Gondorio, Kecamatan Bergas.<br /><br />"Di dua desa tersebut anak bebas dari kekerasan dan mendapatkan hak atas kesehatan," katanya.<br /><br />Sementara itu, peringatan Hari Anak Nasional di Wonderia diisi dengan lomba mengambar dan mewarnai yang awalnya direncanakan hanya diikuti 1.000 anak berusia dua sampai enam tahun, ternyata peserta lomba mencapai 2.500 anak.(Eka/Ant)</p>