Dari seluruh wilayah banua anam yang terdiri dari enam kabupaten di provinsi kalimantan selatan, hingga akhir desember 2010 baru terserap 3.000 ton gabah petani. <p style="text-align: justify;">Kepala seksi pelayanan publik, sub divre wilayah i barabai, m husni thambrin di barabai ibu kota kabupaten hulu sungai tengah, selasa mengatakan, jumlah serapan itu turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya.<br /><br />"serapan gabah hingga akhir desember 2010 sangat jauh berkurang dibandingkan tahun sebelumnya, dimana hingga akhir desember 2009 kita mampu menyerap gabah petani sebanyak 10.000 ton," ujarnya.<br /><br />Salah satu penyebab kurangnya serapan gabah petani pada 2010 lalu diperkirakan karena harganya yang tinggi di pasaran sejak juni 2010.<br /><br />"itulah mengapa petani enggan menjual gabahnya kepada bulog dan lebih suka menjual ke pasaran karena untungnya lebih banyak," katanya.<br /><br />Dari enam kabupaten di wilayah banua anam, setiap tahunnya hst tercatat sebagai pemasok gabah dan beras terbanyak. <br /><br />Berturut-turut kemudian hulu sungai selatan dan tapin, sedang tiga kabupaten lainnya, hulu sungai utara, balangan dan tabalong, hampir tidak ada. <br /><br />"harga pembelian pemerintah untuk gabah telah ditentukan sebesar rp2.640 perkilogram, sedang harga gabah di pasaran pada 2010 lalu tembus hingga mencapai rp10 ribu perkilogram," tambahnya.<br /><br />Gabah di beli para pengusaha penggilingan padi yang kemudian mengolahnya menjadi beras dan menjualnya kepada bulog dengan hpp sebesar rp5.060.<br /><br />Beras yang di serap sub divre harus memenuhi standar yaitu mengandung 14 persen kadar air, butir patah 20 persen, butir menir 2 persen dan derajat susu minimal 5 persen.<br /><br />Pada tahun 2011 sub divre wilayah i barabai menargetkan akan mampu menyerap gabah petani di wilayah banua anam minimal sama dengan serapan pada 2009, yaitu sebanyak 10.000 ton.</p>














