Sintang Siapkan Diri Hadapi Meningkatnya Resiko Sakit Jantung

oleh

Indonesia menjadi salah satu negara dengan kasus penyakit jantung yang paling cepat peningkatannya, namun tidak dibarengi penanganan kasus yang optimal. <p style="text-align: justify;"><br />Berdasarkan data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan atau Balitbangkes Kementerian Kesehatan, bahwa dari 10 jenis penyakit paling sering menjadi penyebab kematian di Indonesia adalah  penyakit jantung iskemik. <br /><br />Demikian disampaikan Bupati Sintang melalui Zulkarnaen Asisten Administrasi Umum Setda Sintang saat membuka Inhouse Training Code Blue System, Senin (/4/2016) di Ruang Balai Praja Kantor Bupati Sintang.<br /><br />“di tahun 1990-an,  penyakit jantung tidak masuk dalam 10 besar penyakit yang mematikan, sedangkan tahun 2000-an menduduki peringkat ke lima dan kini langsung menduduki nomor dua penyakit yang paling mematikan. menghadapi hal tersebut, diperlukan antisipasi dan kesiapan yang optimal  dalam menanggani berbagai keluhan dan indikasi serangkan jantung dari setiap orang terutama yang menjadi obyek pelayanan di rumah sakit. salah satu indikasi serangkan jantung adalah suatu kejadian henti jantung yang dapat terjadi di mana dan kapan saja di rumah sakit” tambah Zulkarnaen. <br /><br />Zulkarnaen menambahkan kejadian ini dapat menimpa pasien, keluarga pasien, maupun petugas rumah sakit sendiri. <br /><br />kejadian henti jantung apabila tidak ditangani dengan cepat akan menyebabkan terjadinya kematian. pertolongan pertama harus dapat dilakukan oleh seluruh komponen rumah sakit, baik tenaga medis yaitu dokter dan perawat maupun tenaga non medis. <br /><br />salah satu strategi pencegahan kejadian henti jantung adalah code blue system . sistem ini merupakan strategi pencegahan kejadian henti jantung, aktivasi sistem emergency  dan resusitasi kejadian henti jantung di rumah sakit, yang melibatkan seluruh komponen sumber daya manusia  baik medis dan non medis, peralatan dan obat-obatan, sistem serta mekanisme kontrol dan evaluasi. <br /><br />sistem ini sangat membutuhkan kesiapan semua pihak sehingga pelatihan yang terncana dengan baik tentang sistem code blue system  menjadi mutlak.<br /><br />hadirin yang saya hormati,“seluruh petugas medis agar memahami code blue system  ini, sehingga nantinya dapat memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis saat melayani pasien. <br /><br />Kepada jajaran RSUD Ade Muhammad Djoen Sintang, saya meminta untuk terus melakukan peningkatan kualitas SDM di rumah sakit sehigga mampu mewujudkan visinya sebagai rumah sakit yang mengesankan dan terpercaya di kalimantan barat, yang pada gilirannya dapat mendukung terwujudnya masyarakat kabupaten sintang yang sehat di masa mendatang.<br /><br />Direktur RSUD AM Djoen Sintang Rosa Trifina mengharapkan agar pelatihan ini mampu memberikan pemahaman mengenai sistem dan cara penanganan kejadian henti jantung. <br /><br />“saya berharap baik tenaga media maupun non medis di RSUD AM Djoen Sintang serta petugas kesehatan lainnya mampu melakukan tindakan awal dan tindakan hidup lanjut bagi pasien penderita jantung karena pelatihan ini akan memberikan informasi mengenai aktivitas sistem emergency, strategi pencegahan dan resusitasi kejadian henti jantung di rumah sakit” terang Rosa Trifina.<br /><br />“pelatihan ini diikuti oleh 84 peserta yang dibagi menjadi dua kelas yakni di Ruang Balai Praja untuk peserta non medis dan Aula RSUD AM Djoen khusus tenaga medis. untuk memberikan pemahaman mengenai penanganan penyakit jantung kami mengundang narasumber dari Departemen Anestesiologi Dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta” terang Rosa Trifina. (Hms)</p>