Siswa SMA 2 Sangau Galang Dana Untuk Karin

oleh

Sebagai bentuk kepedulian terhadap penderita leukimia yang sedang dirawat di RSUD Sanggau, Persatuan Wartawan Kabupaten Sanggau (PWKS) Sanggau bersama siswa-siswi SMA 2 Sanggau yang tergabung dalam Sensor Community . Menggalang aksi kemanusiaan untuk meringankan beban Karin Fitri Olivia, putri pertama pasangan Zakaria dan Asniawati tersebut. <p style="text-align: justify;">Penggalangan bantuan dengan meminta bantuan dana di acara hari lingkungan hidup (LH) Kabupaten Sanggau yang dilaksanakan di kantor BLH KPK. Dan dalam pengumpulan sumbangan tersebut terkumpul dana Rp 4,5 juta lebih, yang diserahkan secara langsung kepada kedua orangtua Karin di ruang Seruni perawatan anak RSUD Sanggau.<br /><br />Pembina Sensor Community SMA Negeri 2 Sanggau Dino, ketika dikonfirmasi, Senin (13/6) mengatakan, apa yang dilakukan oleh anggotanya tersebut. Adalah sebagai bentuk kepedulian terhadap seorang anak asal Kecamatan Tayan Hulu Sanggau yang menderita leukimia dan sedang terbaring lemah di RSUD Sanggau.<br /><br />"Kita ikut merasa prihatin dengan kondisinya, terlebih penyakit ini termasuk penyakit yang masih sulit dicari obatnya. Semampu kita akan melakukan upaya untuk menyembuhkan anak tersebut karena dia masuk dalam keluarga besar kita, dan berasal dari keluarga tidak mampu sehingga membutuhkan bantuan,"tandasnya.<br /><br />Sementara ayah Karin Zakaria, ketika dikonfirmasi secara terpisah mengatakan belum ada perubahan cukup signifikan dari anak semata wayangnya tersebut setelah lima hari dirawat di RSUD Sanggau. Hanya mengalami sedikit perbaikan di mana kandungan hemoglobin (HB) di dalam darah yang pada saat masuk hanya dua sudah mulai naik perlahan menjadi tujuh.<br /><br />“Kemarin sudah sekali tranfusi darah belum ada perubahan cukup berarti, kondisinya masih tetap pucat seperti saat ini. Ini sudah diminta untuk memebus dua kantung darah lagi di PMI Sanggau untuk dilakukan tranfusi darah lanjutan dari yang sebelumnya. Sementara untuk pendanaan kami sangat terbatas karena saya tidak bisa meninggalkan keluarga dalam kondisi seperti ini untuk bekerja,” ujarnya.<br /><br />Hingga kini diungkapkan Zakaria, dirinya masih belum mengetahui upaya apa yang akan dilakukan demi kesembuhan anaknya tersebut. Karena berdasarkan informasi yang diperoleh dari dokter yang menanganinya harus dibawa ke Jawa untuk menjalani pengobatan seperti kemoteraphy, karena keterbatasan peralatan yang ada di RSUD Sanggau.<br /><br />Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Sanggau dr Jones Siagian M Qih, secara terpisah membenarkan saat ini PMI sudah memiliki alat pemisah darah seperti yang dibutuhkan oleh pasien leukimia. Hanya saja untuk dapat menyediakan apa yang dibutuhkan tersebut dirinya masih menunggu permintaan dari dokter yang menangani pasien.<br /><br />“Memang sudah tersedia alat pemisah darah di PMI Sanggau, kita menunggu permintaan saja kalau memang diperlukan maka akan kita siapkan sesuai kebutuhan. Kita tunggu saja dulu informasi dari dokter yang menanganinya apakah perlu PMI melakukan tindakan pemisahan tersebut atau tidak,” katanya.<br /><br />Hal senada dikatakan direktur RSUD Sanggau dr Fadly Persi MARS, dirinya menyatakan akan segera berkoordinasi dengan dokter yang menangani pasien Karin tersebut. Hanya saja berdasarkan diagnosa awal memang Karin diduga menderita penyakit kanker darah atau yang biasa disebut leukimia, dimana sel darah putih lebih banyak dalam kandungan  tubuh dibandingkan darah merah.<br /><br />“Masih akan kita koordinasikan dengan pihak dokter yang menanganinya, terkait tindakan apa yang harus diambil untuk pasien Karin ini,” ujar dr Fadly. Nomor kontak orangtua Karin yang bisa dihubungi jika ada yang ingin membantu yang bersangkutan adalah 0821 4816 4792. Saat ini Karin masih dirawat di Ruang Seruni perawatan anak RSUD Sanggau.<strong> (phs)</strong></p>